Belum Ada Warga Bangli yang Berminat Ikut Transmigrasi, Kondisi Lahan Berbatu Jadi Alasan

lokasi transmigrasi yang dinilai berbatu serta memiliki kontur tanah kapur tampaknya mengurangi minat masyarakat untuk ikut ambil bagian

Belum Ada Warga Bangli yang Berminat Ikut Transmigrasi, Kondisi Lahan Berbatu Jadi Alasan
Istimewa.
Lokasi transmigrasi yang rencananya disediakan di Kabupaten Sumba Timur, NTT. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Kuota transmigrasi pada tahun 2019 ini telah kembali dibuka oleh pemerintah.

Walau demikian, lokasi transmigrasi yang dinilai berbatu serta memiliki kontur tanah kapur tampaknya mengurangi minat masyarakat untuk ikut ambil bagian.

Plt Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Koperasi, UMKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bangli, Tjokorda Gede Agung Panji mengungkapkan Provinsi Bali pada tahun 2019 ini mendapatkan kuota transmigrasi sebanyak 10 KK.

Dari jumlah yang ditawarkan, pihaknya mengaku belum satupun warga Bangli yang mendaftarkan diri, sejak dibuka awal bulan Februari lalu.

“Kami sudah melakukan sosialisasi program ini lewat sosial media utamanya pada kantong-kantong transmigrasi. Seperti Desa Awan, Kintamani maupun Desa Peninjoan, Tembuku. Namun sampai saat ini belum ada satupun yang berminat. Begitupun dengan kabupaten lainnya di Bali, hanya Kabupaten Buleleng, Karangasem dan Gianyar yang sudah memiliki calon. Itupun juga masih dalam tahap penjajakan,” ungkapnya.

Menurut Tjok Panji, alasan belum adanya warga Bangli yang mendaftarkan diri, lantaran kondisi alam di lokasi transmigrasi tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Selain memiliki iklim panas, ia menyebut jika tekstur tanah di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan tanah kapur, kering dan cenderung berbatu.

Sedangkan di lain sisi, lanjut Tjok Panji, masyarakat mengharapkan lokasi transmigrasi memiliki iklim yang hampir sama dengan Bangli, serta memiliki lahan basah.

“Kondisi lahan disana berbatu, hampir mirip seperti di daerah Nusa Dua. Oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Sumba, kami dijelaskan bahwa lokasi sekitar lahan kapur ini, cocok untuk ditanami pohon tebu. Disamping juga rencananya akan dibangun sebuah pabrik. Namun masyarakat kami tidak terbiasa menanam tebu,” tuturnya.

Tjok Panji mengungkapkan kuota transmigrasi akan dibuka hingga awal bulan Juli mendatang. Seluruhnya akan diberi sejumlah pembekalan, untuk selanjutnya diberangkatkan pada bulan September.

“Kami tetap akan mensosialisasikan terkait kuota ini, untuk mencari calon-calon transmigran melalui rapat-rapat di desa,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved