Banjar To Banjar
Pura Bintang Kuning Simpan Arca dan Sarkofagus
Di pura ini tidak terdapat banyak pelinggih seperti pura pada umumnya
TRIBUN-BALI.COM - Pura Bintang Kuning yang terdapat di Banjar Melayang diyakini warga sebagai tempat yang pernah didatangi Cokorda Gede Pemayun dari Kerajaan Pejeng. Di pura ini tidak terdapat banyak pelinggih seperti pura pada umumnya. Hanya peninggalan arca-arca kuno dan sarkofagus yang ada di situ.
Kelian Dinas Banjar Melayang, I Wayan Lugera (46) mengatakan, odalan di pura tersebut digelar setiap hari Anggara Kasih Medangsia. Banjar yang bertangungjawab penuh dalam prosesi upacara piodalannya adalah warga Banjar Melayang.
"Yang bertanggung jawab saat odalan adalah warga sini (Melayang). Tapi saat odalan, warga Desa Petak, Medangan, Tatiapi. Bahkan, warga Desa Gentong datang ke sini membawa sesuhunan barongket. Sebab pura ini ada kaitannya dengan Pura Dalem Gentong," ujarnya pada Tribun Bali, Jumat (27/6).
Perihal fungsi pura, belum ada yang tahu pasti apa fungsinya dan dewa siapa yang melinggih di sana.
Di tempat lain, Kelian Adat Banjar Melayang, I Dewa Ketut Genep mengatakan, meski yang bersembahyang di Pura Bintang Kuning berasal dari beberapa banjar, tetap sarana upakara dibuat sendiri oleh warga Banjar Melayang.
"Banjar lain tidak ikut ngayah. Biasanya mereka ber-dana punia," ujarnya.
Dewa Ketut Genep mengatakan, di Pura Bintang Kuning tidak terdapat banyak pelinggih. Hanya ada dua arca yang berupa fragmentasi bangunan. Pelinggih utamanya berupa Padma Sana. Di jaba pura (wilayah luar pura) terdapat sarkofagus (peti mayat berbahan batu).
Sarkofagus ini sama sekali tidak boleh dimasukkan ke dalam pura. Sebab merupakan benda tidak suci. "Warga tidak mengizinkan siapapun memasukkan benda itu ke wilayah pura. Sebab benda itu tempat untuk menyimpan mayat," ujar Dewa Ketut Genep.
Sarkofagus yang terdapat di Pura Bintang Kuning berbentuk seperti kura-kura yang terbuat dari batu bulitan atau batu koral. Diperkirakan peti batu mayat tersebut berumur 2.000 tahun. Tidak ada yang tahu itu peti milik siapa, namun dipercayai sebagai milik seseorang yang berpengaruh pada zamannya. (*)