Smart Women
Ida Joni Keluar dari Zona Nyaman, Pilih Mengabdikan Diri untuk Bali
Dalam satu hari, kita bisa berhadapan dengan sejumlah orang yang memiliki karakter berbeda
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani
I Dewa Ayu Sugiarica Joni, SSos MA, sudah sadar betapa pentingnya kecakapan berkomunikasi di depan publik. Baik itu di dalam ruang lingkup bisnis, maupun di dunia akademik.
Perempuan yang akrab disapa Ida Joni ini memiliki kepiawaian menyampaikan gagasan dan pemikiran yang diperolehnya dalam proses selama bertahun-tahun. Dengan kepiawaiannya itu, Ida menjadi sosok yang diperhitungkan.
"Seni berkomunikasi itu sangat penting. Dalam satu hari, kita bisa berhadapan dengan sejumlah orang yang memiliki karakter berbeda," ujarnya kepada Tribun Bali di Jalan Sekar Sari No 2, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kamis (17/7/2014).
Menurutnya, pendekatan kepada setiap orang tidak bisa sama. Ini perlunya seseorang memahami seni dalam berkomunikasi.
Dosen tetap Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmus Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana ini sudah menekuni bidang komunikasi sejak SMA.
Dia mengaku sadar menentukan pilihan terjun dan mendalami ilmu bahasa. Dalam buku kenang-kenangan alumni, Ida menuliskan keinginannya untuk menjadi praktisi public relation (PR).
“Kapan hari saya baca ulang buku itu. Ternyata memang sudah dari dulu tekad saya bulat,” kata perempuan berusia 29 tahun ini.
Ketertarikan Ida pada media, broadcasting, maupun hubungan masyarakat, sudah mulai dirasakannya sejak kecil.
Setelah menuntaskan studi di SMA, ia memutuskan untuk merantau ke Surabaya, memperdalam ilmu di Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Hubungan Masyarakat, Universitas Dr Soetomo.
Baginya, sebagai perempuan Bali, penting untuk berjarak sesaat dengan tanah kelahiran agar bisa membuka pikiran dan menyerap aspirasi yang lebih beragam.
Selama menempuh studi beberapa tahun di Kota Pahlawan itu, ia tidak segan-segan berkenalan dengan banyak orang, dan memperluas jaringannya.
“Pada masa-masa akhir, tepatnya saat menyusun skripsi, saya semakin merasa dunia menulis dan komunikasi itu sangatlah menyenangkan. Ide untuk membuat usaha sendiripun muncul,” terangnya.
Tak lama setelah lulus S1, ia dilirik oleh Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) di Bali untuk menjadi asisten dosen.
Ida sangat memperhatikan penampilannya dan kerap dikenal sebagai sosok yang perfectionist itu mengatakan, pada masa itu memang sangat sedikit orang Bali yang menggeluti dunia komunikasi.