Travel
SELAIN Dampak Perang Timur Tengah, Sektor F&B Pariwisata Bali Juga Dipusingkan Masalah Sampah!
Adi juga menduga sepinya kunjungan wisatawan disebabkan karena tiket pesawat menuju Bali masih mahal karena dampak konflik Israel-AS dan Iran.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Pengusaha sektor F&B, khususnya di kawasan pariwisata Bali, sedang dipusingkan dengan menurunnya kunjungan wisatawan di tengah Perang Timur Tengah.
Tak sampai di sana, kini mereka juga kebingungan dalam mengelola sampah organik yang dihasilkan. Seperti Pengelola The Cuisine Bali Jimbaran, Made Adi Minarta, mengungkapkan dampak wisatawan sepi berkunjung ke restorannya mulai dirasakan pada Minggu pertama di Bulan Maret 2026.
"Bulan puasa, low season dan perang lengkap sudah penderitaan kita. Padahal, cuaca Maret sudah baguslah sudah nggak hujan," jelasnya pada, Rabu 8 April 2026.
Di Bulan Maret kemarin, hanya market China yang mengunjungi restorannya. Padahal biasanya masih terdapat market Eropa dan juga domestik. Di bulan April ini seharusnya market Eropa sudah mulai masuk dan biasanya puncak kunjungan di Bulan Mei.
"Turun 60 persen dari awal Maret sampai Nyepi. Setelah Nyepi, baru ada peningkatan sedikit. Ya, mungkin karena liburan Idul Fitri. Sempat naik itu, kalau nggak salah sekitar lima hari ada peningkatan. Mulai tanggal 1 April ini, sudah mulai naik lagi," imbuhnya.
Baca juga: SURVEI Mahayastra: Meski Sering Dikritik, 80,8 Persen Warga Gianyar Puas Hasil Kerja Bupati Gianyar
Baca juga: TRAGEDI Kakek dan Cucu Hanyut Saat Mandi di Tukad Aya Bontihing, Jenazah Budasa Ketemu, Cucu Hilang!
Selain itu, Adi juga menduga sepinya kunjungan wisatawan disebabkan karena tiket pesawat menuju Bali masih mahal karena dampak konflik Israel-AS dan Iran.
"Market Eropa sudah mulai masuk. Kita ada market Turki, biasanya itu seminggu dua kali lah mini grup saya bilang minimal 25 sampai 40 orang. Sudah mulai di 1 April," sambungnya.
Selain dampak perang, Adi juga dipusingkan dengan pengelolaan sampah organik pasca TPA Suwung tak terima kiriman sampah organik per 1 April 2026. Sampah di restonya diambil oleh vendor dan biasanya, vendor ini akan membuang sampahnya ke TPA Suwung.
"Dulu jasa angkut sampah kita Rp1,5 juta per bulan. Sekarang Rp3 juta, terus kita harus memilah sampah. Kalau tidak dipilah, vendor ini tidak mau ambil. Nah, yang menjadi permasalahan sekarang, jumlah sampah kelapa muda ini," terangnya.
Sampah kelapa muda yang dihasilkan harus diolah sendiri, dengan rata-rata perhari menghasilkan 50 butir sampah kelapa dalam keadaan low season, sementara saat high season dapat hasilkan hingga 500 butir sampah kelapa.
Pengelolaan sampah kelapa muda ini, diakui Adi, lumayan berat sebab menambah pekerjaan seperti mencacah hingga menjemur kelapa.
"Tempat pengeringan juga, harus kita bawa ke tempat lain. Perlu transportasi segala macam ruwet dah. Sisanya, setelah dicacah, dijemur, kita pakai lagi terpaksa di sini cuma kan prosesnya lama. Kalau prosesnya seminggu sih enggak masalah. Jadi belum kelar lima hari kemarin, sudah masuk (sampah kelapa) lagi. Dan itu kan memerlukan tempat yang banyak, luas," keluhnya.
Selain sampah kelapa muda, sampah organik yang dihasilkan lainnya adalah sampah yang bersifat basah seperti sisa makanan yang biasanya diangkut vendor untuk dibawa ke Mengwi. Jika dulu pengambilan sampah dilakukan setiap hari yakni setiap malam hari, kini pengambilan sampah dilakukan 2-3 hari yang mengakibatkan menimbulkan bau tidak sedap.
Diterpa keadaan terhimpit, Adi pun tak dapat memprediksi kapan kunjungan wisatawan mulai ramai kembali. Sebab belum ada informasi resmi dari travel agent yang juga belum dapat memastikan reservasi.
"Mereka (travel agent) masih tentatif juga disitu. Karena tiket (pesawat) mahal. Susah juga mereka buat market. Kita dengan travel agent kerjasama kan ada contract rate. Harusnya contract rate berakhir sebenarnya Maret dan 1 April udah mulai baru.
| RIVER Adventure Wisata Air Baru Jembrana, Tiket Wahana Mulai Rp100 Ribu, Ada 3 Trek Sesuai Selera |
|
|---|
| GIANYAR Bidik Pendapatan Rp95 Miliar dari Pariwisata, Tirta Empul dan Goa Gajah Jadi Andalan! |
|
|---|
| BALI Butuh Bandara Baru, Naik 40 Juta Penumpang Per Tahun, Ini Sebab Harga Tiket Domestik Mahal! |
|
|---|
| TELAN Anggaran Rp0,5 Triliun, Penataan Pantai Candidasa Atasi Abrasi dan Pulihkan Daya Tarik Wisata! |
|
|---|
| ANJLOK Okupansi Bali, PHRI Jelaskan Kondisinya, Sekda Tegaskan Kolaborasi Hadapi Tantangan Wisata! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/TEMPAT-The-Cuisine-Bali-Jimbaran-v.jpg)