Cuma kita belum berani buat kontrak yang baru. Takutnya kita buat kontrak, BBM naik. Otomatis kan semua lini itu naik lagi kita revisi. Makanya rencana kita sebulan ini kita coba evaluasi," paparnya.
Ia pun kembali mengingat saat pandemi Covid-19 kemarin, kondisi pariwisata sebetulnya tidak serumit ini untuk memikirkan operasional. Sebab kondisi pandemi memang murni adanya bukan kesengajaan seperti konflik antar negara saat ini.
"Kalau sekarang tamu ada semakin kita dapat tamu, semakin ruwet limbah sampahnya. Apalagi kelapa muda susah banget ya," ujarnya. Di sisi lain, menu kelapa muda tak dapat discontinue sebab mendulang profit yang lumayan besar untuk restorannya. Adi mengambil kelapa muda dari supplier nya yang berada di Jalan Siligita, Nusa Dua.
"Semoga pemerintah cepat mendapatkan solusi sampah utamanya. Dan kita juga agar bisa tidak worry. Satu sampah ini kan sekarang sudah banyak sorotan di media sosial. Utamanya turis-turis sudah membagikan pengalaman mereka tata kelola sampah yang buruk. Apalagi itu kan Kuta trendsetter kita, etalase Bali. Nah disitu sangat disayangkan," pungkasnya. (*)