Sarbagi Region
Pengalaman Peserta Pertukaran Pemuda
Joko Merasa Beruntung Bisa Belajar Budaya Bali
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Program pertukaran pemuda Indonesia-Malaysia yang dilakukan Kementerian Pemuda dan Olaraga (Kemenpora) di Banjar Mas Batanancak, Ubud, Gianyar telah membantu perekonomian warga setempat.
Sejak tanggal 20-23 Agustus, mereka belajar banyak dari warga setempat. Baik seni budaya, adat istiadat maupun tradisi setempat.
Jumat (22/8/2014) kemarin adalah hari terakhir 69 delegasi pemuda tersebut berada di Mas Batanancak.
Ketua Panitia Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia di Banjar Mas Batanancak, I Wayan Eka Mustika mengatakan, selama tiga hari, pemuda delegasi diajarkan membuat topeng di Museum I Wayan Muka.
Pengenalan gerak tari dan gamelan oleh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Terakhir adalah mengunjungi museum topeng.
"Karena waktu singkat, mareka hanya sebatas mengenal," katanya. Joko Purnomo, delegasi asal Provinsi Kalimantan Selatan menilai waktu tiga hari di Banjar Mas Batanancak tidak cukup untuk mempelajari budaya tradisional Bali.
Agar tidak sia-sia, Joko selalu bertanya dan mencatat semua materi yang diajarkan warga setempat.
"Frekuensi otak terbatas. Jadi tidak mungkin langsung paham. Karena itu saya selalu bertanya dan mencatat," ungkapnya.
Selain mengenal secara langsung kebudayaan Bali, Joko mengaku beruntung bisa berteman dan berbaur dengan orang Bali.
"Kami tinggal di rumah-rumah penduduk. Tidak seperti apa yang dipikirkan, katanya orang Bali sombong. Setelah beberapa hari di sini, stigma negatif itu ternyata salah besar," ujarnya lalu tersenyum.
Hal senada juga dirasakan Bryan Whildan Arsaha dari Provinsi Jogjakarta. Pada Tribun Bali, ia mengatakan, ketertarikannya pada sistem irigasi pertanian (subak).
"Dari segi tata tertib anggota dan implementasi, subak sangat bagus untuk menghindari percekcokan antarpetani," ujar mahasiswa Fakultas Teknik Grafika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Saat lulus seleksi ketat menjadi anggota delegasi pertukaran pemuda Malaysia-Indonesia, Lee Huey Yi, asal Malaysia, tidak tahu akan berangkat ke negara mana.
Karena pemerintah Malaysia menilai kapasitasnya di bidang budaya, ia pun diberangkatkan ke Indonesia.
"Setelah tahu diajak ke Bali, saya senang. Budaya dan tradisi orang Bali merupakan tujuan utama pecinta kebudayaan," ujar perempuan bermata sipit itu.
Di tempat lain, Kelian Adat Banjar Mas Batanancak, I Wayan Sumadi mengaku tidak tahu sejak tiga hari banjarnya dijadikan tempat pengenalan budaya oleh para delegasi pemuda Indonesia-Malaysia.