Mom & Kids
Faktor Keturunan Pengaruhi Sifat Disiplin Anak
Sebaiknya, kata perempuan berusia 52 tahun ini, penerapan disiplin harus diajarkan pada usia sedini mungkin.
Penulis: Irma Yudistirani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM - Selain menimba ilmu, sekolah merupakan tempat untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak-anak.
Penerapan disiplin di masing-masing sekolah tidak seragam, tergantung kebijakan yang dibuat.
Contoh, membersihkan ruangan kelas sebelum jam belajar dimulai, memotong kuku, rambut siswa tidak boleh di bawah telinga, mengerjakan tugas sekolah di rumah, mengenakan pakaian yang rapi, dan lainnya.
"Murid juga diwajibkan untuk melaksanakan tugas secara tepat waktu. Tugas-tugas ini mempunyai jadwal di dalam pelaksanaannya. Murid dikatakan disiplin bila tugasnya dikerjakan tepat waktu," ungkap perwakilan Kepala Sekolah SD Negeri 2 Dauh Puri, Ida Gusti Agung Poetri, pada Tribun Bali, Kamis (15/1/2015) lalu.
Namun Gung Poetri menilai, pada dasarnya sikap disiplin anak didapatkan dari rumah. Sebab, rumah adalah tempat paling awal bagi anak-anak mendapatkan ilmu disiplin.
Gung Poetri, sapaannya, menyebutkan anak mengetahui apa itu sikap disiplin adalah dari orangtuanya. Bahkan saat masih di kandungan, anak sudah mengenal sikap disiplin.
"Apa yang dilakukan seorang ibu, sedikit tidaknya anak di dalam kandungan juga akan menerima responnya. Bila kedua orangtuanya disiplin, pasti anaknya disiplin. Semacam keturunan," jelasnya.
Sebaiknya, kata perempuan berusia 52 tahun ini, penerapan disiplin harus diajarkan pada usia sedini mungkin.
Sebab, sejak usia usia dini, keingintahuan anak sangat besar. Jika tidak ada batasan, anak akan belajar melepas keinginan sesuka hati. Sehingga tidak ada salahnya bila diberi batasan atau aturan.
Ada kalanya anak diajarkan disiplin, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Misalnya, merapikan mainan setelah dimainkan, tidur tidak larut malam, menonton tayangan televisi sesuai umur, dan lainnya.
Bila saat kecil ia sudah diajarkan disiplin yang baik oleh orangtuanya, nantinya akan membawa dampak yang baik pula saat masuk di lingkungan sekolah.
"Tiap anak mempunyai karakter berbeda. Di sekolah telah ada peraturan yang harus dilaksanakan murid. Kalau tidak terbiasa, anak bisa kaget," katanya.
Peraturan untuk mendisiplinkan anak terlihat saat diberikan sanksi di sekolah. Misalnya, bila melanggar akan dikenai sanksi berupa menulis kalimat "Tidak mengulangi perbuatan lagi", membersihkan halaman, merapikan kantor, dan kalau pelanggarannya sudah berat, maka orangtua akan dipanggil.
"Tapi sanksi hukuman tidak langsung dikenakan pada murid. Ditanya dulu alasannya mengapa. Di sini mereka juga dilatih untuk berkata jujur dan mengungkapkan pendapat," jelasnya.
Namun, baik tidaknya disiplin anak tergantung dari banyak faktor. Di antaranya faktor keluarga yaitu orangtua, dan faktor lingkungan di sekitar rumahnya.