Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bali United Pusam

Sule Pernah Tidur di Stadion Selama Dua Bulan

Bakat alam yang dimiliki pemain yang juga sering dipanggil Sule ini tercium sampai ke kabupaten lain di Bali, Gianyar.

Tayang:
Penulis: Muhammad Qomarudin | Editor: Uploader bali

TRIBUN-BALI, MANGUPURA – Wajah-wajah Semeton Dewata yang menyaksikan langsung latihan tim Bali United Pusam di lapangan Trisakti Legian Kuta, Badung, tampak gelisah saat tak ada sosok I Nengah Sulendra di lapangan. Banyak di antara mereka yang bertanya-tanya, "ke mana Sulendra?".

Nama Sulendra belakangan ini memang sempat menjadi buah bibir di kalangan Semeton Dewata. Sosok yang menjadi ikon pemain lokal Bali ini sempat tak ada kejelasan di Bali United.

Saat negosiasi kontrak dengan Head Coach Indra Sjafri dan manajemen Bali United, mantan kapten Perseden Denpasar ini meminta waktu sehari untuk mempertimbangkan tawaran nilai kontrak yang disodorkan padanya.

Ia memilih pulang kampung ke Rendang Karangasem untuk meminta pendapat keluarga, terutama sang istri, Ni Wayan Ekayanti. Kebetulan pada saat itu juga, buah hati mereka, Putu Bayu Wedana Putra, yang masih berusia satu setengah tahun sedang demam.

"Saya mendapat dukungan penuh dari keluarga, khususnya istri saya agar kembali. Saya kembali demi Bali," kata Sulendra saat sampai di hotel pemain untuk bergabung kembali dengan rekan-rekannya.

Pemain yang berposisi asli bek kanan ini terbilang paling punya banyak pengalaman dibandingkan pemain lokal Bali yang lain. Karir profesional pemain yang di kampungnya dipanggil Repot ini dimulai saat klubnya saat itu Tunas Remaja Rendang mewakili Karangasem saat ajang Porprov Bali tahun 2003.

Saat itu ia baru berusia 16 tahun. Dua tahun berikutnya, bakat alam yang dimiliki pemain yang juga sering dipanggil Sule ini tercium sampai ke kabupaten lain di Bali, Gianyar. Pelatih Persegi Gianyar U-21 saat itu, Wayan Suarya, meminta Sule masuk ke skuatnya.

Pemain kelahiran 25 Mei 1985 ini ternyata sempat masuk juga di tim Porprov Gianyar pada tahun 2007. Pada masa-masa persiapan sebelum ajang Porprov itu, tim Gianyar yang mayoritas adalah skuat Persegi U-21 sempat digembleng habis-habis selama dua bulan penuh. Bahkan mereka harus stay di Stadion Kapten Dipta dengan memakai ruangan di stadion sebagai mes.

"Dua bulan penuh saya tidur di Stadion Dipta. Jadi saya mulai akrab dengan aura stadion itu," ujar Sule.

Hasilnya sangat memuaskan. Kontingen cabang sepakbola dari Gianyar menjadi juara dan berhak mewakili Bali untuk berlaga di PON Kaltim 2008. Namun sayang, perjalanan tim PON Bali harus terhenti di babak awal penyisihan grup. Dengan catatan tiga kali seri dalam tiga kali penampilan.

Nama Sule terus berkibar di Bali. Tahun 2009 Perst Tabanan yang kala itu naik ke Divisi I tertarik memakai jasanya. Selama satu musim ia berjibaku membela klub yang kala itu punya ambisi besar menembus level berikutnya.

Carut marut sepakbola Indonesia pada tahun 2010 yang melahirkan Liga Premier Indonesia (LPI) memberi asa bagi Bali untuk tampil di level tertinggi liga Indonesia. Muncullah Bali Devata sebagai kontestan LPI kala itu.

Sule pun ikut ajang seleksi di Bali Devata dan akhirnya masuk dengan jaminan posisi inti di kanan pertahanan klub Bali ini. Selama dua musim Sule membela Bali Devata.

Saat Persires Rengat dan Bali Devata memutuskan bergabung menjadi Persires Bali Devata FC pada tahun 2012, Sulendra juga masih masuk di dalamnya. Baru pada musim setelahnya, Sule pergi merantau ke ibu kota. Sule memperkuat Persija Jakarta di ajang IPL.

Tak sampai ajang kompetisi IPL selesai, Persija bubar tanpa ada kejelasan setelahnya. Status pun tidak jelas dan gaji beberapa bulan yang juga belum terbayarkan. "Persija bubar. Gaji saya juga masih belum dibayar," keluhnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved