Art and Culture

Jango Pramartha Konsisten Angkat Isu Sosial Bali

Kartun ciptaan Jango Pramartha dikenal memiliki warna dan karakter yang mampu menggelitik sekaligus ‘memaksa’ penikmatnya untuk berpikir.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Jango Pramartha Konsisten Angkat Isu Sosial Bali - DSCN75211.JPG
istimewa
Jango Pramartha.
Jango Pramartha Konsisten Angkat Isu Sosial Bali - 111.JPG
istimewa
Karya Jango Pramartha.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kartun ciptaan Jango Pramartha dikenal luas memiliki warna dan karakter yang selalu mampu menggelitik sekaligus ‘memaksa’ penikmatnya untuk berpikir.

Di usianya yang kini menginjak setengah abad, Jango masih konsisten mengasah kepekaan batinnya dengan mengangkat isu-isu sosial di Bali yang bersifat universal. 

Jango kerap membenturkan antara yang sakral dan profan, antara nilai tradisi dan modernitas. Dalam beberapa tahun terakhir, ia tetap berpegang pada satu konsep besar yakni globalisasi.

Sebagai seniman yang lahir dan tumbuh di pulau Dewata, ia menyadari, kata BALI ternyata terselip di tengah kata ‘GLOBALISASI’. 

Dalam satu karyanya, Jango menggambarkan dua orang yang tampak seperti sepasang suami istri mengenakan busana tradisional Bali sedang memegang tangga. Sang istri berucap ‘YE$$’, sedangkan di bagian atas dua figur itu terdapat tulisan GLOBALIZATION. Kata BALI berwarna merah.

“Y artinya Yen, E menandakan Euro, dan S itu, ya Dolar. Saya selalu berpegang pada konsep ini. Ya, perlu disadari, Bali memiliki risiko yang perlu diperhatikan bersama. Kita berpijak di dua landasan, kaki kiri berdiri di tradisi dan kaki kanan di modern,” ujar Jango saat bercakap-cakap dengan Tribun Bali di kediamannya, Jalan Veteran, Gang IV, No 3, Denpasar, Sabtu (17/1/2015).

Semangat sama juga tampak pada sejumlah karya yang sempat dipamerkannya dalam pameran ‘Bali: Return Economy’, di Fremantle Art Centre, Perth, West of Australia. Jango bekerja dan melakukan perlawanan dalam diam.

Melalui karya kartunnya, direktur Bog-bog Bali Cartoon Magazine ini, berupaya menciptakan perdamaian.

Karya yang cukup mendapat sorotan adalah asepan (tempat pembakaran) yang mengeluarkan asap berbentuk pulau Bali.

Hanya saja di dalamnya, ia bukannya menggambarkan geografis Bali, melainkan penuh dengan berbagai merek, produk yang sarat dengan kapitalisme. 

Ada juga kartun yang mengkritisi dampak pariwisata yang tidak terkendali terhadap keberlanjutan seni budaya Bali. Digambarkan sebuah tebing yang di atasnya terdapat sebuah pura. Melihat bentuknya, terlihat seperti Pura Uluwatu di Bali Selatan.

Alat pengeruk bertuliskan Tourism Development mencoba menghancurkan tebing itu, sementara di bawahnya ada masyarakat Bali dengan ekspesi wajah yang beragam.

DR Chriss Hill, seorang penulis dan kolektor karya seni Bali mengatakan, fenomena itu sebagai Dangerous Globalization (globalisasi yang berbahaya). Karya-karya Jango sempat pula menjadi kajian untuk studi antropologi dan sosiologi. 

“Saya memang tertarik dengan gaya political cartoon. Itu yang menyebabkan kartun-kartun saya kerap mengangkap isu-isu dari fenomenan sosial dalam masyarakat Bali. Permasalahan-permasalahan tersebut saya rangkum dalam sebuah gambar,” ujar Jango yang juga bekerja sebagai pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar. 

Menurutnya, sesungguhnya ada banyak hal yang bisa diangkat dari Bali dan apabila terus digali tidak akan pernah ada habis-habisnya. Ia memandang, problem terkait kesakralan dan sesuatu yang profan, selalu menjadi hal yang menarik untuk dicermati. Jango dengan sadar memilih jalan untuk membenturkan keduanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved