Art and Culture
Jango Pramartha Konsisten Angkat Isu Sosial Bali
Kartun ciptaan Jango Pramartha dikenal memiliki warna dan karakter yang mampu menggelitik sekaligus ‘memaksa’ penikmatnya untuk berpikir.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Baginya, apabila kedua hal itu dibenturkan, muara Bali jauh lebih hidup, dan akan menciptakan serpihan-serpihan. Apabila diramu dengan cerdas dan cermat, akan menghasilkan kartun yang bernilai.
Menyikapi hal itu, Jango menekankan, sejatinya, sesuatu yang tradisional bukanlah sebuah kemunduran, begitu juga yang modern, bukanlah kemajuan.
Ia berkeyakinan pula, dalam berkesenian, tidak ada senioritas, melainkan kreatifitas. Kalau ingin maju, seseorang tidak hanya bisa hanya asik sendiri di dalam kamar, tanpa mengikuti bagaimana perkembangan di luar.
Jango menjelaskan, karya kartun dibagi menjadi tiga, di antaranya kartun politik, sosial, dan kartikatur (wajah). Karya yang baik, semestinya mengandung olah rupa, estetika, humor, dan etika, intelektualitas.
Di samping itu, kepekaan dan kehati-hatian sangat diperlukan agar seorang kartunis tidak kehilangan sisi sensitifitasnya.
Prof DR Carol Warren, seorang antropolog dari Universitas Murdoch, Australia menilai meski hanya satu gambar dan minim kata, Jango mampu menyampaikan kritik yang tajam sekali. Sang seniman dipandang masih peka akan kesenjangan sosial yang terjadi. (*)