Griya Style
Vihara Dharmayana dari Abad ke-17 Masih Berdiri Kokoh di Kuta, Bali
Akulturasi Arsitektur Bali dan Tiongkok
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM - Salah-satu vihara tertua yang ada di Bali, kondisinya masih sangat baik dan kokoh.
Ketua Banjar Dharma Semadi, Kuta, Adi Darmaja Kusuma (49) yang juga penanggungjawab Vihara Dharmayana, Kuta, Bali, menyebutkan arsitektural khas Tionghoa yang begitu tradisional, masih terlihat jelas di viraha tersebut.
Bangunan yang sudah berdiri sejak abad ke-17 itu, telah mengalami akulturasi, berpadu dengan arsitektur khas Bali.
Selama ini, para pengurus vihara tidak melakukan banyak renovasi pada keseluruhan bangunan karena mempertimbangkan nilai sejarahnya.
Mereka hanya memperbaiki bagian-bagian yang dipandang benar-benar perlu mengingat kondisinya yang rapuh.
“Tapi di bagian dalamnya, masih asli, tradisional sekali. Belum ada perubahan apa-apa,” jelasnya.
Apabila dicermati, beberapa bagian dari vihara yang terletak di Jalan Padma itu, begitu kental dengan arsitektur Bali.
Misal saja ukiran, bentuk atap, penggunaan ider-ider, dan adanya bale bengong. Umumnya, masyarakat Bali menggunakan bale bengong sebagai tempat untuk berkumpul bersama.
Hal serupa tampak jelas pada angkul-angkul bangunan yang segera dapat dilihat begitu seseorang memasuki gerbang utama.
Menurut Adi, angkul-angkul dan patra bangunannya tidak terlepas dari tradisi Hindu. Bagian atap bangunan boleh dikata juga melambangkan adanya perpaduan antara arsitektur khas Bali dan Tiongkok.
Ujung atap, tidaklah terlalu melengkung dan dekoratif, melainkan lebih polos. Keseluruhan sisi bangunan dihiasi ider-ider, yang umumnya digunakan oleh masyarakat Hindu Bali dalam upacara keagamaan.
“Barangkali karena bangunan ini sudah ada sejak lama, jadi nilai-nilai Bali-nya masih kuat. Di samping itu, masyarakat yang membangunnya, juga tidak melupakan konsep masyarakat Tionghoa.”
Dekorasi dinding yang penuh dengan keramik aneka jenis, semakin menandakan betapa tuanya bangunan tersebut.
Dinding tampak begitu indah dengan tatanan berbagai jenis dan corak keramik yang disusun sedemikian rupa.
Keramik langka itu menurut Adi sudah dipasang sejak lama, sejak masa leluhurnya dulu. Hingga kini belum pernah mendapat sentuhan tambahan, mereka masih mempertahankan keasliannya.