Sarbagi
Bu Menteri! Pelaku Bom Ikan Masih Bergentayangan
Nelayan Uluwatu Menepi Lantaran Cuaca Buruk
Penulis: Edi Suwiknyo | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Nelayan di Pantai Lebih, Kabupaten Gianyar, mengeluhkan pengeboman ikan yang dilakukan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab.
Akibatnya kelestarian terumbu karang dan habitat ikan di laut menjadi terganggu.
"Di perairan laut pantai lebih sering terjadi pengeboman ikan, masalah itu sudah dilaporkan ke Dinas Peternakan dan Kelautan setempat, namun belum mendapatkan respon," kata Ketut Arka, salah seorang nelayan sekaligus anggota Penyelamat Pantai di Pantai Lebih, Gianyar, Minggu (22/2/2015).
Ia mengatakan semenjak adanya pengebom ikan di laut, pendapatan nelayan di sekitar pantai itu menurun drastis.
Pengebom ikan yang bukan nelayan setempat, kerap menggunakan perahu motor. Biasanya, jumlah mereka sedikitnya enam orang dan beraksi di tengah laut pada malam hari.
Kondisi ini, menurut Ketut Arka membuat nelayan setempat marah, hal itu pernah ditindaklanjuti dengan membentuk Kelompok Pengawas Masyarakat yang anggotanya terdiri dari nelayan di Pantai Lebih.
Namun kelompok yang dibentuk itu dibuat sia-sia karena para pengebom ikan itu sulit dicegah dan diberantas.
"Kami harap pemerintah turun tangan mengatasi masalah ini, jika dibiarkan terumbu karang akan rusak, dan ikan pun semakin berkurang," jelasnya.
Selain masalah pengebom ikan, para nelayan Pantai Lebih juga mengeluhkan soal tidak dibelinya lobster yang sedang bertelur.
Hal itu menurutnya mesti segera dicarikan jalan keluar, sehingga alat-alat dari nelayan Pantai Lebih tidak mangkrak akibat distopnya penangkapan udang lobster.
Sementara itu berbeda halnya dengan nelayan di Perairan Uluwatu, Badung. Mereka merapatkan perahunya, lantaran cuaca tak bersahabat.
Tanga Sugiharto mengaku lambung kapalnya bocor akibat hantaman ombak, Jumat (20/2) lalu. Kejadian itu terjadi saat ia dalam perjalanan pulang seusai menangkap ikan di sekitar Perairan Uluwatu, Badung.
"Ya biasa selesai menangkap ikan kan pulang. Di tengah perjalanan tiba-tiba angin bertiup kencang diikuti petir dan gelombang tinggi," ujarnya.
Merasa kondisi laut tak aman, saat ini Sugiharto memilih untuk tidak melaut dan menunggu cuaca membaik. "Sudah dua hari saya tak melaut. Yah, nanti melaut lagi setelah laut kembali tenang," jelasnya.
Berbeda dengan Sugiharto, Rizki (45) justru memilih tetap melaut. Menurutnya hal ini terpaksa dilakukannya lantaran jumlah permintaan di pasaran cukup tinggi.