Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art and Culture

Nyoman Erawan Selalu Berangkat dari Memori Kultural

Erawan meramu ingatan-ingatan masa lalu, sekaligus mengkreasi ulang apa yang dulu telah dianggapnya ‘selesai’ dalam proses penciptaannya.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/ Istimewa
Nyoman Erawan 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani

PERUPA Nyoman Erawan kembali menghadirkan hasil pergulatan batin dan imajinasinya selama sewarsa belakangan ini. Melalui pemeran tunggal Emotive, seniman asal Sukawati, Gianyar itu memaknai memori kulturalnya sebagai orang Bali.

Dalam 25 karya rupanya, dapat dicermati bagaimana sang seniman memunculkan berbagai ikon, motif, dan ornamen khas tanah kelahirannya. Sejak berpuluh-puluh tahun lalu, semuanya mengakar kuat dalam diri Erawan.

Bisa dilihat pula bagaimana Erawan meramu ingatan-ingatan masa lalu, sekaligus mengkreasi ulang apa yang dulu telah dianggapnya ‘selesai’ dalam proses penciptaannya.   

Pada karya Erawan kali ini, barangkali juga publik melihat adanya motif-motif yang mirip lukisan kamasan. Tampak pula ornamen yang boleh jadi memberi kesan begitu dekoratif, yang oleh sebagian orang justru diyakini patut dihindari. Karya dinilai harus lepas dari ornamentik tergelincir menjadi sensasional, gagal meraih yang hakiki dan esensi.

Namun Erawan justru tidak bermain di wilayah itu. Pengalaman selama lebih dari empat dasawarsa berkesenian menempa dan mematangkan dirinya, sehingga paham sadar betul akan pilihannya menuangkan aneka ornamen itu.

Ornamen yang hadir dalam karyanya, tentu tidaklah sekadar penghias saja, melainkan jauh dari itu. Menghidupkan kembali memori kulturalnya.

“Apabila seseorang masih berada di tatanan teknis, boleh jadi itu hanya menjadi tempelan saja. Tapi di sini sudah pada tahap menyatuan dengan diri,” ujarnya saat ditemui Tribun Bali di Griya Santrian, Sanur, Bali, belum lama ini.

Dia menambahkan, bukan bentuk yang mengarahkan, tapi kita yang menghasilkan bentuk. Apa yang dilihat pada lukisan itu, juga bukan segumpal warna kuning yang diberi ukiran. Bukan pula pola yang diwarna.

Menurutnya, posisi ornamen sebagai media dekoratif, memang sebaiknya dijauhkan. "Apakah nantinya sebagai ekspresi atau hanya berhenti menjadi elemen saja?” katanya.

Apabila mampu masuk sebagai ekspresi, diyakininya karya akan hidup, tetapi menjadi kering jika hanya sampai sebagai elemen saja.   

Dalam sebuah tulisannya, seniman muda I Made Susanta Dwitanaya menegaskan, seri karya Erawan tersebut menampilkan unsur ornamentik yang intens. Dalam struktur visual, terjadi benturan antara ornamen yang tertib dan sapuan, serta cipratan cat air yang ekspresif.

Hal itu dinilainya seakan mengingatkan kembali dengan konsep paradoks yang kerap dihadirkan Erawan dalam karya terdahulunya. Gambaran itu muncul pula pada karya Erawan berjudul Kekunoan. Ia menampilkan lukisan kamasan dalam kondisi terbakar.

“Semuanya masih bisa diperdebatkan kembali. Sesungguhnya, apa yang saya kerjakan sebelumnya, itulah yang dibaca ulang. Saya memulai lagi dengan sesuatu yang baru,” ujarnya.

Menurutnya, orang Bali memiliki cara sendiri untuk mengolah memori kulturalnnya. Setiap saat, Erawan telah menguji periode berkeseniannya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved