Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art and Culture

Nyoman Erawan Selalu Berangkat dari Memori Kultural

Erawan meramu ingatan-ingatan masa lalu, sekaligus mengkreasi ulang apa yang dulu telah dianggapnya ‘selesai’ dalam proses penciptaannya.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/ Istimewa
Nyoman Erawan 

“Saya selalu berangkat dari memori kultural. Saat masih kuliah, studi saya berangkat dari upacara Ngaben. Coba perhatikan, begitu artistik, dari keglamoran ke kehancuran. Kehancuran yang indah dan menawan,” katanya. 

Berpegang pada hal itu, baginya tidak ada satupun yang abadi, semuanya akan kembali ke tanah, jadi abu. “Dalam konteks karya kali ini, bagaimana mengapresiasi karya lama menjadi yang baru,” ujarnya.

Dewa Gede Purwita yang juga bergabung di Gurat Institut memandang, dalam konteks konsep karya Erawan, nir kerap kali menjadi pemaknaan pada pembacaan akhir. Nampaknya hal tersebut menjadi kelanjutan dari periode awal ketertarikannya atas prosesi pralaya.

Erawan mengaku, karya yang digarap saat ini mengambil satu tema besar, Rhythm. Diceritakannya, saat masuk ke tahapan awal, Erawan mencoba kembali ke perupaan Bali dan masuk ke masa lalu. “Semua hal bergerak sendiri, begitu pula dengan rhythm,” ujarnya.  

Erawan memberi judul karyanya, “Rhythm in Various Tones#1”, “Rhythm in Various Tones#2, dan seterusnya. Untuk lukisan hitam putih, dinamainya “Rhythm in Black Tone#1” dan seri berikutnya.

“Rhythm yang beragam. Dari puluhan karya itu, tidak ada pengulangan, tidak ada yang sama. Mungkin saja motif yang dipakai sama, tapi peranannya dalam setiap lukisan tentunya tidak sama. Setiap jepretan, ada rasa yang berbeda,” jelasnya.

Dari karya yang penuh pewarnaannya dan yang hanya mengandalkan kekuatan dan kedalaman hitam putih, Erawan mengaku lebih tertantang di hitam putih.

“Warna kadang menipu. Cerah kerap membuat mata kita silau. Tapi dengan hitam putih, di sana ada kedalaman yang didapat. Sama seperti orang yang sedikit bicara, namanya madat, kalau di Bali dibilang wayah,” jelasnya. 

Sambil bergurau, menurutnya, jangan sampai juga kita takut warna. Seniman hanya menyediakan ruang untuk orang banyak, tidak memaksa orang untuk menyukai satu hal.

Secara keseluruhan, pemakaian kata Emotive dalam pamerannya, bagi Erawan merupakan sebuah simbol, sesuatu yang terus-menerus memotivasi dirinya untuk mencipta. “Kali ini karya yang saya tampilkan seperti ini, tapi bisa jadi berikutnya akan jauh berbeda. Sayapun tidak ingin hanya mengkultuskan diri pada satu hal saja,” ujarnya.

Selama ini, Erawan memang dikenal sebagai perupa yang juga aktif melakukan eksplorasi pada berbagai medium. Dia beberapa kali sempat menampilkan performing art, dan dalam kesempatan itu, dia berkolaborasi dengan Asok Nagara bertajuk The Process. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved