Ketut Mahadewi Bikin Bangga Keluarga, Juarai Turnamen Internasional
Ketut yang saat itu sekolah di SD 4 Dajan Peken Tabanan ini diminta untuk mewakili Tabanan dalam Pekan Olahraga Pelajar Se-Bali dan dapat Juara III
Penulis: Miftachul Huda | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - "Pak, menang." Itu kata pertama yang diucapkan Ni Ketut Mahadewi Istarani kepada bapaknya Nengah Subagya melalui sambungan ponselnya. Kebahagiaan dan kebanggaan langsung menyelimuti keluarga Ketut di Tabanan.
Wajah Subagya dan istrinya Ni Nengah S Kartini tampak sumringah saat ditemui di rumahnya di Perumahan Tanahbang Kediri Tabanan, Bali, Senin (23/3/2015) malam.
Keduanya senang setelah sang anak, Ketut Mahadewi, menjuarai turnamen Ciputra Hanoi-Yonex Sunrise Vietnam International Challenge 2015 pada Minggu (22/3/2015) malam. Ketut memenangi ganda putri berpasangan dengan Anggia Shitta Awanda.
"Ketut ini memang bakatnya sudah terlihat sejak kelas dua SD," kata Subagya dengan antusias didampingi istrinya. Ia berkisah jika anak ke empat dari empat saudara ini sudah terlihat kemampuan dalam bermain bulutangkis sejak usia belia.
"Bukan hanya bulutangkis sebetulnya, sejak kecil dia punya banyak bakat seperti basket, lari, bahkan main sepakbola," terangnya mengenang kejadian belasan tahun silam saat Ketut masih duduk di bangku SD.
Bahkan khusus untuk main sepakbola ini, Ketut yang kelahiran Tabanan 12 September 1994 ini selalu ikut main sepakbola saat ada perlombaan 17 Agustus. "Bahkan sampai bisa-bisa bikin gol tiga kali," ulasnya.
Padahal saat itu semua yang bermain sepakbola adalah anak laki-laki. "Dia ini memang tomboi, diajari menari lama sekali bisanya. Tapi kalau disuruh basket atau lari dia jagonya," papar Subagya disambut tawa istrinya mengenang masa kecil Ketut.
Si bungsu yang masa kecilnya bercita-cita ingin jadi Polwan ini bahkan sempat mau fokus ke basket, namun karena bulutangkis yang paling menonjol, maka orangtua mengarahkan ke olahraga tepok bulu ini.
"Kelas tiga SD dia sudah mewakili kecamatan Tabanan di turnamen bulutangkis di (kabupaten) Tabanan," jelas Subagya yang seorang dosen di Denpasar ini.
Ketut yang dihubungi via media sosial tadi malam, juga mengisahkan awal kariernya sejak usia dini. Ia mengaku awalnya hanya iseng-iseng main di depan rumah lalu ikut ekstra kurikuler di sekolah.
"Kata guru SD saya waktu itu, saya ada bakat di bulutangkis. Dari situ saya mencoba ikut latihan di PBSI Tabanan dan klub Dewarra," tuturnya.
Sejak itu bakatnya mulai terlihat. Ketut yang saat itu sekolah di SD 4 Dajan Peken Tabanan ini diminta untuk mewakili Tabanan dalam Pekan Olahraga Pelajar Se-Bali. Hasilnya dia mendapatkan juara tiga saat masih di kelas III SD.
Dari sana banyak pihak yang meliriknya hingga akhirnya ada turnamen lokal di Tabanan. Seperti biasa, Ketut mendapatkan juara. Dia sempat gabung dengan berbagai klub lokal di Tabanan hingga akhirnya saat menginjak kelas I SMP ada pemandu bakat yang meliriknya.
"Dia diundang oleh orang dari Suryanaga Surabaya untuk bergabung. Saat itu ibunya masih pikir-pikir untuk menerimanya," terangnya.
Akhirnya setelah diyakinkan dan dikatakan ada bakat yang luar biasa pada diri Ketut, orangtua kemudian melepasnya. "Kami support sepenuhnya, ke mana pun saya dan ibunya mengantar bukan hanya di Bali tapi juga luar Bali," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ketut-mahadewi.jpg)