Smart Woman
Petikan Senar Intan Mayadewi Tjahjaputra Sihir Penonton
Di balik penampilannya yang sederhana dan santun, ternyata ia sangat piawai memainkan gitar klasik, instrumen yang jarang dimainkan seorang perempuan.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: gunawan
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sosok Intan Mayadewi Tjahjaputra boleh dikata bak air tenang tak beriak, tetapi menghanyutkan. Di balik penampilannya yang sederhana dan santun, ternyata ia sangat piawai memainkan gitar klasik, instrumen yang terbilang jarang dimainkan seorang perempuan.
Intan mampu membawakan karya-karya para maestro dunia musik klasik yang tergolong sangat berat bagi seorang musisi muda. Perempuan kelahiran Denpasar, 20 Januari 1990 itu berhasil memainkan Praludium Presto dari Lute Suite Bach BWV 996 saat usianya baru menginjak 19 tahun.
Penampilannya yang kerap memukau dan mencengangkan, dapat disaksikan publik luas di lebih dari 40 rekaman video di youtube. Apresiasi berdatangan dari netizen, tidak hanya di Indonesia, bahkan dari beberapa negara.
Kata-kata pujian terus mengalir dari mereka yang menyaksikan pemanggungan Intan melaluiyoutube. Ada yang menilai, Intan seperti cerminan sang ayah, Lianto Tjahjoputro, gitaris yang bereputasi internasional.
Begitu pula saat Intan pentas bersama sang ayah, di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar beberapa waktu lalu. Ratusan penonton seakan tersihir dengan petikan-petikan senar yang dibawakan Intan. Raut wajahnya tenang penuh penghayatan.
“Musik klasik membuat saya menjadi lebih damai dan peka. Bagi saya, bermain gitar itu, ya sebagai pelipur lara, kalau sudah dapat main, senang sekali rasanya,” ujar Intan saat ditemui Tribun Bali di kediamannya, Pemogan, Denpasar.
Apabila telah memasuki panggung mengenakan gaun dan membawa gitar klasiknya, Intan seolah siap melepas bebas. Ia seakan membiarkan jari-jarinya menari begitu saja.
Tangannya bergerak cekatan dari satu kunci ke kunci lain, memetik dari satu senar ke senar lain. Meskipun hanya tampil seorang diri, tanpa iringan instrumen yang riuh, namun Intan dapat membuat perhatian penonton terus tertuju padanya.
Kepiawaian Intan bermain gitar klasik, hasil dari latihan bertahun-tahun, selama berjam-jam dalam seharinya. Guna mengasah kemampuannya, ia tidak tanggung-tanggung mengikuti a guitar master class yang diasuh musisi Jerman, Anna Koch.
“Saya sudah berlatih dari kecil. Ya, memang ada saja momen jenuh. Tapi itu harus dihadapi. Kalau sudah pegang gitar, ya tidak bisa hanya dipegang begitu saja, harus main,” ucap Intan yang kini menjadi pelatih di Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia (PGKRI).
Intan merasa begitu bersyukur, di usianya yang terbilang masih belia, sudah mampu membawakan permainan yang berat. Setiap hari ia selalu didorong oleh ayahnya untuk terus mengasah diri.
“Saya kan tinggal dengan ayah, ya, setiap hari selama sekian jam saya bisa berlatih. Nah, walau sudah beginipun, untuk lagu tertentu, masih sangat sulit saya pelajari. Apalagi yang hanya bertemu satu minggu sekali,” tambah Intan.
Lianto mengakui, putrinya itu menjadi muridnya yang paling lama bertahan. Anak didik lainnya, yang sebelumnya dianggap sangat berbakat, ternyata memilih untuk mengambil jalan lain, seperti belajar maupun bekerja di luar negeri.
Sebagai pemain gitar klasik, menurut Intan, hal paling utama adalah bagaimana mengasah mental. Latihan di rumah saja dinilainya tidaklah cukup, perlu untuk tampil di depan publik luas, agar bisa terus mengembangkan diri.
Ia mengumpakan seperti seorang petinju. Agar menjadi petinju yang unggul, harus berani berlaga dari satu ring ke ring lain. Kesadaran untuk berlatih dan mengasah diri juga menjadi kunci utamanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/intan-mayadewi-tjahjaputra_20150412_151524.jpg)