Art and Culture
Bagi Apel, Tato Adalah Seni Murni, Bukan Preman
Bagi Nyoman Apel Hendrawan, tato merupakan bagian dari perjalanan artistiknya yang terbilang unik.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Bagi Nyoman Apel Hendrawan, tato merupakan bagian dari perjalanan artistiknya yang terbilang unik.
Dia mengawali masa berkeseniannya menjadi seorang pelukis, namun kemudian mencoba masuk ke ruang seni tato.
Apabila ditelisik, boleh jadi tidak banyak perupa di Bali yang juga menjalani peran sebagai seniman tato.
(Berita Terkait: Tato Gradasi dan 3D Itu Sulit, Disitulah Letak Seninya)
Memainkan warna melalui sapuan kuas di kanvas tentu berbeda dengan menancapkan jarum di atas kulit.
Meski terbilang penuh tantangan, Apel tidak ragu menekuni seni tato, yang selama ini agaknya juga kurang banyak mendapat tempat.
Dalam gelaran pameran seni budaya, tidak banyak seniman yang menampilkan karya-karya tato.
Bahkan tidak jarang seseorang yang ingin memiliki tato melakukannya sembunyi-sembunyi karena cemas dinilai tidak baik.
Selain itu, mereka yang tubuhnya ditato juga kerap kurang diterima oleh masyarakat.
Apel kembali menekankan, tato sesungguhnya bagian dari seni murni.
Berbeda dengan anggapan umumnya yang menganggap tato identik dengan premanisme.
Dia justru melihat, semakin hari, seni tato dan para penggiatnya sudah semakin memiliki ruang ekspresi yang lebih terbuka.
“Tato itu bagian dari seni, dan sebenarnya tato lebih sulit dari yang lainnya. Hasilnya juga tidak bisa dilihat langsung karena kita harus menunggu setidaknya satu minggu, itu dari awal pembuatan sampai kulitnya sembuh,” ujar Apel saat ditemui Tribun Bali di Sanur beberapa waktu lalu.
Seorang seniman dituntut untuk lagas (lepas bebas) membuat gores demi gores pada kulit sang model.
Menurutnya, seorang seniman tato kematangannya dapat dilihat dari hasil karyanya, baik kehalusan maupun olahan gradasi warnanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seni-tato_20150426_160021.jpg)