Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art and Culture

Bagi Apel, Tato Adalah Seni Murni, Bukan Preman

Bagi Nyoman Apel Hendrawan, tato merupakan bagian dari perjalanan artistiknya yang terbilang unik.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Tribun Bali
Tato itu seni murni, bukan preman. 

“Kalau di kanvas, kan tinggal diberi warna saja. Nah, untuk membuat tato, sangat penting diperhatikan proses memasukkan tintanya. Harus mengerti betul bagaimana jenis kulit modelnya, jangan sampai salah,” ungkap Apel yang sudah 17 tahun menekuni seni tato.

Perlakukan sang seniman terhadap setiap jenis kulit berbeda-beda, dipengaruhi pula dengan pori-porinya.

Faktor kesulitan tertinggi menurutnya adalah pada medium kulit yang begitu rentan dan beresiko.

Saat hendak menggarap sebuah tato, sedari awal Apel sudah memperhitungkan cara yang paling tepat.

Goresan pertama menurutnya menjadi penentu langkah berikutnya.

“Kita harus mengerti jenis kulit orang. Karakternya berbeda-beda. Bahaya kalau sampai berdarah, apalagi bengkak,” ucapnya.

Biasanya, selain mencipta pola sendiri, Apel juga menerima pesanan dari orang lain.

Hanya saja ia membatasi diri agar tidak tergelincir hanya menjadi seorang perajin.

“Kadang costumer langsung yang membawa polanya. Tapi kalau seutuhnya diserahkan ke seniman, saya akan membuat sket dulu di kertas. Jarum yang nanti dipakai ukurannya berbeda-beda,” tambah Apel yang sempat berpameran tunggal “Resurrection, from Darkness into Light”  di Galery Griya Santrian, Sanur, 2013. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:

Fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali

Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved