Art and Culture

Adakah Kekuatan Dibalik Drama Gong?

Ia mengaku antusias dan apresiasi masyarakat Bali sangat tinggi. Bahkan dia dan kawan-kawannya sudah terbiasa pentas dari tengah malam hingga subuh.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Tribun Bali/ Dok
Drama Gong yang diperankan oleh Ida Bagus Raka Pudjana bersama kerabatnya. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama hampir 30 tahun bermain drama gong, Ida Bagus Raka Pudjana, yang lebih dikenal sebagai Komang Apel, begitu aktif menghidupkan seni drama gong di Bali.

Ia mengaku antusias dan apresiasi masyarakat Bali sangat tinggi.

Bahkan dia dan kawan-kawannya sudah terbiasa pentas dari tengah malam hingga subuh.

“Kami menganggap ini untuk ngayah. Durasinya bisa sampai lima jam. Tapi anehnya, selama itu tidak ada penonton yang pergi. Mereka anteng. Saya sendiri tidak mengerti apa kekuatan drama gong. Barangkali taksunya. Suatu kebanggaan kami bisa memainkan drama gong,” ucapnya.

Seniman Bali yang juga bergabung di Bali Bintang Timur di antaranya Sukerti, Lodra, Anak Agung Rai Kalam, Wayan Puja, Mongkeg, Yudana, Dadap, Kiul, dan Gangsar.

Apabila mereka akan pentas, masyarakat akan datang berbondong-bondong, baik tua maupun muda.

“Dulu ketika kami tampil di Nongan, Karangasem, mereka yang tinggal di daerah Besakih bisa sampai naik truk nonton ke sana. Saya ingat betul, setiap siaran drama gong di TVRI, jalan akan sepi karena orang nongkrong nonton TV. Saat itu TV jarang, hanya ada hitam putih,” kisahnya.

Dalam mengisi hari-harinya, Ida Bagus kerap mendengarkan kembali lawakan-lawakannya.

Begitu juga dengan album lagu-lagu yang pernah diciptakannya.

Di sela-sela percakapan dengan Tribun Bali, Ida Bagus sempat menyanyikan sebuah lagu berjudul Garang Utang.  

Lagu yang ditulisnya itu mewakili perjalanan hidup sang seniman yang terbilang cukup berliku.

Tumbuh sebagai anak tunggal hanya bersama Ibunya, Ida Bagus harus berjuang sendiri menafkahi hidupnya.

“Ayah meninggal saat saya kecil. Saya menjalani semuanya dengan perasaan jengah untuk terus maju,” imbuhnya.  

Laran beline/gae ape ne sing taen jemakin/kebus/madagang koran Bli di jalan/petengne bli ngelawak/ ngenepin isin basing/ngadep munyi tur lelucon kemu mai/ade buin ane tusing ngidang engsapang/krana kepelek bli bani ngae utang.

Belum sempat mengakhiri nyanyiannya, Ida Bagus terhenti, suaranya tercekat dan matanya berkaca-kaca.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved