Workshop Cerpen Kompas 2015
Budi Darma: Imajinasi dan Raga Penulis Harus Terus Berkelana
Karya yang baik, dinilai adalah karya yang menyenangkan sekaligus juga bermanfaat bagi pembacanya.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Kander Turnip
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Sastrawan Budi Darma dan Gde Aryantha Soetama membagikan berbagai pengalaman dan gagasannya dalam workshop Cerpen Kompas 2015.
Workshop berlangsung di Bentara Budaya Bali Jalan Prof Dr Ida Bagus Mantra, Ketewel, Gianyar, Jumat (22/5/2015) sedari pukul 08.00 Wita.
Budi Darma memaparkan konsep penulisan cerpen sedari masa Soeman HS, hingga perkembangan terkini pemuatan tulisan di koran.
Disampaikannya, cerpen memang sifatnya pendek, dapat dibaca dalam beberapa menit, misalkan saat menunggu kereta api maupun bus.
(Baca Berita Terkait: Kompas Gelar Workshop Cerpen Bersama Budi Darma di BB Bali)
Karya yang baik, dinilai adalah karya yang menyenangkan sekaligus juga bermanfaat bagi pembacanya. Namun, pandangan itu tergantung pula pada karakter masing-masing pembaca.
“Meskipun pendek, intensitasnya harus terjaga. Sekarang, tulisan cerpen untuk koran, biasanya sekitar 10 ribu karakter dengan spasi karena memang ruang yang terbatas. Di sanalah penulis harus memiliki kemampuan abstraksi,” jelas Budi Darma.
Dia mengungkapkan, seorang penulis bagus, ada yang awalnya meniru terus-menerus cara menulis pengarang lain hingga kemudian menemukan karakternya sendiri.

“Siapa orang itu, Hemingway. Dia memiliki kemampuan cara menulis yang sangat unik,” ujarnya.
Dalam penggalian ide dan guna menjaga konsistensi menulis, ditekankan pula penting bagi penulis agar imajinasi maupun raganya untuk terus berkelana.
Pengelanaan yang dimaksud tidak semata harus bepergian ke sebuah tempat, melainkan bisa dengan meliarkan imajinasi.
Selain itu, penulis juga tidak akan pernah kehilangan ide dan kreatifitas apabila terus disiplin membaca. Budi Darma mengaku, perjalanan dirinya sebagai penulis juga banyak dipengaruhi oleh masa kanaknya.
“Sama halnya dengan karya Djenar yang sedikit banyak juga berlandaskan pada kehidupan dia di masa lalu,” terangnya.
Gde Aryantha Soetama mengungkapkan, dalam penulisan cerpen dapat menggunakan pendekatan teori gelebung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/workshop-cerpen-kompas-di-bbb_20150522_124713.jpg)