Art and Culture
Jadi Minoritas di Jakarta Tidaklah Mudah, Ini yang Dilakukan Kompyang Raka
Sekian jalan berliku telah ditempuh Kompyang Raka. Menjadi bagian dari minoritas di kota besar Jakarta tidaklah mudah.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pencapaian gemilang LKB Saraswati tentu bukan tanpa hambatan.
Inilah Seniman tari, I Gusti Kompyang Raka, satu-satunya putra Bali yang masih bertahan mengawal seni budaya Bali di Jakarta.
Sejak tahun 1968 hingga kini dia terus bersetia mendampingi anak-anak didiknya di Lembaga Kesenian Bali (LKB) Saraswati.
Sekian jalan berliku telah ditempuh Kompyang Raka.
(BERITA TERKAIT: Inilah Putra Bali yang Pertahankan Seni di Jakarta Selama 47 Tahun)
Menjadi bagian dari minoritas di kota besar Jakarta tidaklah mudah.
Terlebih dengan keinginan untuk menggaungkan seni dan budaya Bali.
Namun kesungguhan Kompyang Raka meredam berbagai halangan yang muncul.
Bahkan untuk saat ini saja, jumlah muridnya mencapai 520 orang.
Dia dibantu oleh 14 pelatih tari dan 3 pelatih gamelan.
Secara keseluruhan, terhitung ribuan.
“Ya, kita harus pandai menyesuaikan diri dan berkompromi agar bisa tetap rukun dengan semuanya. Di sini kami tidak mengenal suku. Toleransi dikedepankan,” terang Kompyang Raka.
Dia menceritakan, pada masa-masa awal, sejumlah orang tak dikenal pernah melemparinya dengan batu.
“Saat itu kami sedang latihan, tiba-tiba saja ada suara-suara gaduh. Saya tidak tahu pasti siapa yang melakukannya. Di tempat lain juga sempat dilempari,” tuturnya.
Momen itu tidak segera menyurutkan niat Kompyang Raka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kompyang-raka_20150531_180007.jpg)