Hari Raya Galungan
Barong Kedingkling Ida Ratu Sakti Melancaran Memberkati Rumah Warga
Ada delapan perwujudan berupa tapel wayang wong yang merupakan bagian dari epos Ramayana, diantaranya tapel Anoman, Subali, Sugriwa dan Garuda.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Kander Turnip
TRIBUN-BALI.com, GIANYAR - Bukan hanya sembahyang yang dilakukan umat saat hari raya Galungan.
Namun beberapa kegiatan unik sebagai warisan tradisi turun-temurun dari leluhur, yang keberadaannya diterima secara estafet tanpa pernah diketahui asal usul maupun sejarahnya pun dilangsungkan pada hari raya Galungan.
Satu diantaranya yang dilakukan di Banjar Bedil, Sukawati, Gianyar yang melalukan tradisi ngelawang atau melancaran.
Ada delapan perwujudan berupa tapel wayang wong yang merupakan bagian dari epos Ramayana, diantaranya tapel Anoman, Subali, Sugriwa dan Garuda (Jatayu).
Tradisi yang diwarisi, yakni setiap Hari raya Galungan ini adalah melancaran ke wilayah sekitar Banjar Bedil, dengan harapan umat diberikan keselamatan dan kesejahteraan.
"Biasanya Ida Ratu Sakti mulai melancaran sekitar pukul 10.00 wita, usai umat melakukan persembahyangan. Diiringi dengan seperangkat gamelan, Ida Ratu Sakti memasuki pekarangan krama satu per satu menuju areal Parahyangan yakni Sanggah atau merajan," ujar Novi seorang pemudi Banjar Bedil kepada Tribun, Rabu (15/7/2015).
Lanjutnya, kemudian perjalanan melancaran berlanjut menuju halaman rumah untuk memberikan berkah pada tanaman atau pohon di halaman rumah dengan harapan bisa berguna untuk si pemilik rumah dan dilakukan hal yang sama di setiap rumah.
"Selain sekitar areal banjar, melancaran juga diperluas sampai Banjar Jungut dan Banjar Peninjoan, Desa Batuan. Hingga akhirnya sekitar pukul 14.00 Wita, pengiring yang didominasi anak-anak dan pemuda ini kembali ke pura banjar untuk menstanakan kembali Ida Ratu Sakti di Gedong penyimpanan," imbuhnya.
Ida Bagus Aji selaku Mangku Pura Pengulun Banjar di Banjar Bedil Desa Sukawati, menjelaskan bahwa tradisi ini hadir begitu saja di tengah masyarakat dan diterima sebagai warisan.
"Tahun berapa mulai ada, kami tidak bisa jelaskan karena ini warisan leluhur. Kami lakoni sesuai apa yang dilakoni orang tua dan leluhur kami. Sehingga sekarang kembali diwariskan pada anak cucu," ujarnya.
Sementara itu Ketua Sekaa Teruna Tunjung Mekar Banjar Bedil, I Kadek Dwi Antara Putra menjelaskan bahwa jaman dahulu, melancaran atau yang lebih dikenal dengan istilah ngelawang ini jangkauannya hingga Desa Lodtunduh Ubud.
"Kakek saya pernah cerita, bahwa jaman dulu krama banjar sampai harus membawakan bekal makanan untuk anak-anaknya karena saking jauhnya ngelawang," ujarnya.
Namun entah karena perubahan jaman, kata dia, saat ini ngelawang hanya menjangkau wilayah sekitar banjar setempat semata.
Perbedaan lain yang muncul juga bahwa dahulu dilakukan selama 10 hari penuh sejak Galungan hingga Kuningan, namun beberapa tahun belakangan hanya dilakukan sehari saat galungan dan sehari saat Kuningan saja. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/barong-kedingkling-melancaran-di-banjar-bedil_20150715_154527.jpg)