Akui Warga Miskin di Bali Bertambah, Pastika Soroti Biaya Upakara dan Tajen
Ia mengimbau masyarakat Bali untuk memperbaiki sikap mental, selain mengajak seluruh elemen untuk secara bersama-sama memperhatikan
Penulis: Ady Sucipto | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengakui adanya penambahan jumlah keluarga miskin di Bali.
Biaya upakara yang besar dan budaya tajen disebut sebagai penyebab semakin bertambahnya kemiskinan di pulau surga dolar ini.
Hal itu disampaikan Pastika saat melaksanakan kunjungan ke penerima bedah rumah di Banjar Tegalasah, Desa Tembuku, Bangli, Bali, Minggu (19/7/2015).
“Bukan hanya di Bangli yang bertambah, secara keseluruhan di Bali juga bertambah. Hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan status dalam keluarga dan juga standar kemiskinan tersebut dinaikkan,” jelas Pastika.
Mantan Kapolda Bali ini juga tidak menampik bahwa kemungkinan program yang telah dijalankan selama ini masih belum berhasil secara menyeluruh dalam pelaksanaannya.
“Ini yang harus benar-benar kita waspadai, mengurangi penduduk miskin itu rumusnya yakni mengurangi pengeluarannya dan menambah pendapatannya,” tegas Pastika.
Saat ini melalui program unggulan Bali Mandara seperti JKBM, bedah rumah, Gerbangsadu, Simantri, Pemprov Bali telah berupaya untuk mengurangi pengeluaran dari penduduk miskin.
Namun ada faktor-faktor tertentu yang memang membuat penduduk miskin tersebut bertambah.
Pastika menyoroti masalah upakara yang dilakukan secara besar-besaran dan memerlukan biaya yang banyak, serta kebiasaan tajen (sabung ayam) dianggapnya turut andil terhadap penyebab bertambahnya pengeluaran dari masyarakat.
“Saat ini desa cenderung membuat upacara secara besar-besaran dan hal inilah yang menyebabkan masyarakat yang hampir miskin jadi miskin. Selain itu saya juga agak khawatir melihat tajen ini semakin merajalela,” jelas Pastika.
Ia mengimbau masyarakat Bali untuk memperbaiki sikap mental, selain mengajak seluruh elemen untuk secara bersama-sama memperhatikan dan turut mengurangi pengeluaran-pengeluaran dari penduduk miskin tersebut agar bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.
Menurutnya, Pemprov berusaha untuk mengurangi pengeluaran penduduk miskin melalui program Bali Mandara, dan sudah seharusnya pengeluaran untuk upacara juga bisa ditekan.
“Bukannya saya melarang untuk melaksanakan upacara secara besar-besaran. Itu boleh saja asal mampu. Jadi jangan disamaratakan dengan penduduk miskin,” ujarnya
Ia meminta setidaknya iuran bagi si miskin lebih rendah dengan yang kaya sehingga hal tersebut tidak menjadi beban bagi mereka yang miskin.
Sebelumnya, Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda menyatakan, kalau tidak menggunakan wiweka secara sehat maka sering upacara dirasakan sebagai suatu beban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/mangku-pastika-bantu-bedah-rumah_20150720_085324.jpg)