Inapkan Sesuwunan Barong Bangkung, Rumah Warga Bergetar Hebat
Setiap Kajeng Kliwon, krama banjar akan menyembelih ayam hitam untuk barong yang telah menjadi benda sakral bagi Banjar Tegal Kangin.
Laporan Wartawan Tribun Bali, AA Putu Santiasa Putra
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Banjar Tegal Kangin Desa Pakraman Pohgading, Kelurahan Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Bali memiliki sesuwunan Barong Bangkung bernama Ratu Gede Mas Mecaling yang diletakkan di sebuah gedong di sebelah Banjar, Pura Taman Sari namanya.
Sesuwunan ini diamong seluruh krama Banjar Adat Tegal Kangin yang berjumlah 98 kepala keluarga (KK).
Sesuwunan ini memiliki sejarah.
Menurut Kelian Adat I Made Astawa, awalnya sekitar tahun 1960-an terdapat sekaa manyi di Banjar Tegal Kangin.
Pada suatu hari setelah musim panen mereka memutuskan membeli sebuah barong bangkung untuk dimainkan bersama.
Selain bermain di banjar sendiri, mereka sering mendapatkan panggilan bermain di sejumlah tempat.
Awalnya pementasan ini berfungsi sebagai perayaan kecil dan mengikat tali kebersamaan setelah musim panen.
Saat pentas barong di Banjar Balun mereka membawa barong hanya menggunakan sepeda gayung.
Usai pementasan krama banjar Balun menyarankan agar menitipkan barongnya di sebuah rumah warga karena hari telah malam.
Para sekaa manyi agar tidak terlalu susah membawa pulang barong tersebut.
Bermalamlah Barong Bangkung di sebuah rumah warga.
Hal yang tidak disangka terjadi yakni rumah warga bergetar hebat ketika malam harinya.
Tentu mereka langsung menghaturkan sejumlah sesajen kepada barong bangkung karena pikiran saat itu masih syarat dengan skala dan niskala.
“Saat sekaa manyi ingin mengambil barongnya, mereka begitu terkejut sebab di depan barong bangkung itu terdapat sejumlah sesajen dan banten,” ungkapnya.
Kemudian, diketahui ternyata barong tersebut dilinggihkan kemudian sekaa manyi Banjar Tegal Kangin memutuskan menitipkan barong tersebut di Pura Dalem.
Lama berselang, barong tersebut menua dan kurang terawat.
Kemudian atas usulan krama banjar Tegal Kangin pada tahun 2011 Barong tersebut dipindahkan ke banjar tepatnya di Pura Taman Sari.
Selain memindahkan tempat, barong tersebut mendapat perombakan total baik tapel, asesoris, kain, dan lain sebagainya.
“Tahun 2011 kami benar-benar merombak total barong yang merupakan sesuwunan di banjar itu. Serta di-linggih-kan di Pura Taman Sari dekat banjar. Kayu bahan tapelnya kami minta di Pura Dalem,” ungkapnya.
Saat ini, setiap Kajeng Kliwon, krama banjar akan menyembelih ayam hitam untuk barong yang telah menjadi benda sakral bagi Banjar Tegal Kangin.
Kemudian setiap enam bulan sekali pada Sugian Bali krama akan melaksanakan kegiatan melancaran ke sejumlah banjar yakni Banjar Tegal Kauh, Liligundi, dan Tegal Kangin.
Setiap dua tahun sekali akan digelar pementasan atau mesolah yang cukup besar seperti Calonarang.
Menurut Kelian Dinas Wayan Oka Candra, budaya ini merupakan warisan leluhur terdahulu yang dilestarikan bersama.
Untuk itu, tidak ada rasa beban melaksanakan seluruh kegiatan adat yang telah berlangsung selama ini.
“Kami biasanya meminta keselamatan dalam berkehidupan terutama dalam kegiatan mebanjaran,” jelasnya. (*)
Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pementasan-calonarang_20150730_142658.jpg)