Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kecelakaan di Bali

USAI Kecelakaan, Mantan Petinju Peraih Emas Asian Games Pulang dari RS, Ini Kata Pino Bahari

Lebih lanjut ia mengatakan Pino sudah kontrol ke poliklinik di RSUD Bali Mandara setelah mendapatkan penanganan.

Tayang:

TRIBUN-BALI.COM —Mantan petinju Pino Bahari (53) akhirnya bisa pulang dari rumah sakit setelah mendapatkan perawatan akibat kecelakaan beberapa pekan lalu. Petinju yang pernah menyumbangkan medali emas untuk Indonesia di Asian Games Beijing 1990 ini pulang dari RSUD Bali Mandara pada Minggu (19/4).

Hal itu diungkapkan Direktur RSUD Bali Mandara dr I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya. “Sudah pulang tanggal 19 April 2026,” kata dr Dharma Jaya, pada Senin (27/4).

Dijelaskan, Pino Bahari dirawat kurang lebih 6 hari sejak tanggal 13-19 April 2026 setelah itu pulang. “Operasi juga sudah pembiayaan juga sudah ditanggung Jasa Raharja dan BPJS. Artinya kalau ini tidak ada kendala beliau sudah selesai,” jelasnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan Pino sudah kontrol ke poliklinik di RSUD Bali Mandara setelah mendapatkan penanganan. “Karena kecelakaan ada patah saya lupa patahnya di mana, sudah dilakukan tindakan karena sudah ada pihak penanggung pembiayaan segala macam, kita tidak terlalu detail. Tapi secara umum sudah aman, tidak ada masalah, juga sudah kontrol ke poliklinik artinya sudah stabil sudah bisa aktivitas,” bebernya. 

Sebelumnya, terdapat unggahan dari akun facebook dengan user name Julius Khang. Di akun tersebut tertulis 25 April 2026, Pino Bahari Kecelakaan MENPORA ERICK THOHIR CUEK BEBEK. Petinju kelas menengah, peraih medali emas Asian Games Beijing 1990, Pino Bahari mengalami kecelakaan. Petinju yang lolos pada Olimpiade Barcelona 1992 dan Athena 1996 ini mengalami kecelakaan, saat mengendarai motor di Denpasar, Senin 13 April 2026. 

Baca juga: MALING Emas Senilai Rp253 Juta, Sebelum Aksi Pekerja Serabutan di Tembuku Sempat Bertamu di TKP!

Baca juga: LIMBAH Kembang Api Meledak di Ubung Kaja Kagetkan Warga, Gara-gara Bakar Sampah 

Akibat kecelakaan tersebut, Pino mengalami patah engkel kaki kiri dan patah tulang rusuk kiri bagian belakang 4 ruas. Ternyata, nasib atlet Indonesia memang miris. Indonesia Peduli Olahraga (IPO) mendapatkan informasi, bahwa Pino yang merupakan putra pelatih tinju legendaris Indonesia, Daniel Bahari itu kerjanya serabutan.

Menjadi driver ojek online dan juga jadi panitia tinju lokal, di mana penghasilan ala kadarnya. Makanya, Pino tidak mampu membayar biaya operasinya yang menembus Rp 200 juta, karena memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya saja ngos-ngosan.  

Sementara itu, Tribun Bali mengunjungi Pino Bahari di hotel tempat menjalani perawatan sementara di kawasan Simpang Siur, Kuta, Kabupaten Badung yang lokasinya tidak jauh dari rumah di Pemogan, Denpasar, Senin (27/4).

Pasca kecelakaan, Pino dilarikan ke RSUD Bali Mandara untuk menjalani operasi toraks dan kaki. Proses pemulihannya membutuhkan waktu lama. Ia harus menjalani istirahat total dan baru diperbolehkan belajar berdiri setidaknya dua bulan setelah operasi. Di atas ranjang perawatan, Pino Bahari suaranya terdengar parau dan berat. Sesekali ia meringis sambil memegangi bagian rusuk kirinya yang baru saja menjalani operasi besar. 

“Sekarang masih harus bed rest total. Di rusuk dan pergelangan kaki kiri saya dipasang pen. Dokter bilang paling cepat 2 bulan lagi baru bisa belajar berdiri,” ujar Pino dengan nada bicara yang lirih dan terputus-putus menahan nyeri saat dijumpai Tribun Bali, pada Senin (27/4).

Insiden yang mematahkan empat ruas tulang rusuk dan pergelangan kaki kirinya itu terjadi saat Pino berusaha menghindari tabrakan dengan seorang pengendara motor yang memotong jalan secara tiba-tiba. 

Demi menyelamatkan nyawa orang lain, pria kelahiran 15 Oktober 1972 ini memilih membanting motornya hingga ia sendiri harus menanggung cedera fatal. Namun, ironi pahit muncul di balik perjuangan medisnya, biaya operasi yang mencapai sekitar Rp200 juta. Untungnya akhirnya di-cover BPJS Kesehatan yang masih aktif, ditambah bantuan donasi dari rekan-rekan sesama insan olahraga.

Kehidupan Pino Bahari jauh dari kemewahan seorang pahlawan olahraga. Ia mengaku sempat bekerja sambilan sebagai driver online mobil demi menyambung hidup. “Saya sempat mengambil pekerjaan sebagai driver online untuk tetap menghidupi keluarga di tengah kondisi pekerjaan di dunia tinju yang sedang sepi,” akunya. 

Nasibnya kian terjepit setelah ia dirumahkan dari pekerjaannya sebagai pelatih di sebuah sasana di Canggu pada Maret lalu akibat sepinya anggota. Pino yang pernah meraih perak dan perunggu di berbagai edisi SEA Games serta juara nasional dan PON, merasa perhatian pemerintah terhadap masa tua para atlet masih sangat minim. 

Ia pun menyampaikan aspirasi yang mendalam bagi seluruh atlet nasional. “Harapan besar saya, pemerintah khususnya Kemenpora bisa memberikan perhatian lebih melalui undang-undang dana pensiun bagi atlet nasional yang berprestasi,” tegasnya. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved