HUT Kemerdekaan RI
Seorang Pemuda Bali Gugur Saat Peristiwa Tanah Haron
Peristiwa pelarian panjang dilakukan Saputera dkk setelah Belanda menguasai sebagian kawasan Denpasar. Mereka minta bala bantuan tentara di Jawa.
Pernah terjadi sampai empat hari kelompok Saputera itu kehabisan bekal sehingga memakan apapun yang bisa dimakan di hutan.
“Rakyat di dekat hutan tidak berani memasok makanan. Sebab, kalau ketahuan Belanda, mereka akan dibunuh,” tutur Saputera.
Satu kejadian yang membekas diingatannya ialah peristiwa Tanah Haron.
Ini merupakan kemenangan kecil oleh TKR dengan tewasnya 82 orang NICA.
Sebelum long march, pada 11 April 1946 ada sekitar 2.500 pejuang (200 di antaranya mantan pejuang PETA) menyerbu tangsi Belanda di Kreneng, Denpasar.
Penyerangan itu memakai strategi kirikumi (menyerang tanpa diketahui) yang dipelajari tentara Jepang.
Dilaksanakan pukul 12 malam, kira-kira 45 tentara Belanda tewas dalam penyerangan yang dipimpin oleh Kapten Sugianyar, Letnan Kusumayuda dan Letnan Japa.
Di Singaraja (yang saat itu menjadi ibukota Bali dan Sunda Kecil), kemarahan para pemuda Indonesia mencuat saat kapal-kapal Belanda dengan pasukannya mendarat di sana dan kemudian menurunkan bendera merah-putih di tempat-tempat sekitar pantai pada tahun 1946.
“Merah putih diganti bendera merah, putih dan biru milik Belanda. Para pemuda marah, dan bendera Belanda diturunkan, kemudian merah-putih dinaikkan kembali. Karena begitu seterusnya, Belanda marah, dan membombardir Singaraja. Di peristiwa bendera itu, satu pemuda gugur yakni Ketut Merta,” ungkap Jro Wilaja yang memiliki 6 anak, 11 cucu, dan 9 cicit.
Peristiwa yang juga tidak bisa dilupakan Jro Wilaja ialah saat pasukan NICA dikabarkan datang ke gubuk atau markas para pejuang di tengah malam di Puncak Landep.
Saat itu Jro Wilaja bersama para pejuang karena ia menjadi tenaga medis yang ikut dalam pelarian.
Jro Wilaja dan teman-temannya sedang lelap tidur tatkala tiba-tiba satu informan pejuang memberi kabar kedatangan pasukan Belanda.

Diorama Puputan Badung 1906 menceritakan Raja Badung dan keluargannya serta rakyat Bali bertekad mengusir penjajah di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Bali, Minggu (9/8/2015). (Tribun Bali/ Rizal Fanany)
"Bergegas kami merapikan semua dokumen dan barang. Jika satu dokumen atau barang tertinggal, maka bisa saja masyarakat dibunuh oleh NICA karena ada rahasia terungkap," ungkapnya.
"Malam itu kami berjalan tidak tahu ke mana. Jalan terus di bawah malam gelap dan hawa dingin, hingga kelelahan. Saat fajar mulai terlihat, tahu-tahu kami berada di tengah kebun kopi," imbuhnya.
"Saat itu, tidak ada yang pernah berpikir kepentingan diri sendiri. Yang ada adalah semangat bersama mengusir penjajah," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/i-gusti-bagus-saputera_20150810_101916.jpg)