500 Pekerja Lokal Bekerja di PLTU Celukan Bawang, Tapi Gajinya
Muhammad Sadli, yang ditugaskan dalam merekrut tenaga kerja lokal, mengatakan, pada tahap kontruksi hanya sekitar 500 pekerja lokal yang dilibatkan.
Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Irma Yudistirani
Mereka bekerja di bawah naungan PT General Energy Bali (GEB).
Menurutnya, tidak satu pun pekerja lokal yang bekerja di dalam kantor.
Berulang kali warga mengikuti seleksi tapi selalu gagal.
(Bau dan Berceceran, Limbah PLTU Celukan Bawang Bikin Warga Sesak Nafas)
Menurut Sadli, proses seleksi yang dilakukan sangat ketat.
Meliputi prestasi akademik, usia maksimal 25 tahun dan postur tubuh.
“Pekerja di bagian administrasi juga tidak dari warga kami. Nggak ada warga kami yang kerja di dalam kantor. Semua buruh kasar. Sudah sering ikut seleksi tapi nggak pernah lulus,” katanya.
Selain harus bersaing dengan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok, pekerja lokal Bali harus bersaing dengan pekerja dari luar Bali.
Tidak sedikit pekerja lokal yang didatangkan dari Batam, Jawa Timur dan Jawa Barat.
Menurutnya, pekerja lokal yang menempati posisi di dalam kantor berasal dari Batam.
Di sisi lain, sebanyak 850 orang pelamar dari warga empat desa itu menunggu untuk dapat bekerja di PLTU.
(PLTU Celukan Bawang Bakal Penuhi 40 Persen Energi Listrik di Bali)
Sebagian besar dari mereka melamar sebagai tenaga administrasi dan pekerja teknis pengoperasian mesin.
Sadli merasa kurang nyaman jika warga setempat disebut belum layak bekerja di PLTU.
Menurutnya, warga yang melamar kerja telah berpendidikan tinggi dan memiliki pengalaman kerja di sejumlah PLTU.
“Kalau warga kami sebenarnya tidak juga kalau tidak layak kerja di dalam. Banyak yang lulusan elektro di ITS, ITB dan banyak pula yang sudah berpengalaman di PLTGU Pemaron dan PLTU Pesanggaran. Ini kan tergantung niat mereka, boleh tidak warga lokal kerja di dalam,” tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pekerja-tiongkok_20150812_100505.jpg)
