Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bali Paradise

Serunya Wisata di Tanteri Ceramic Pejaten, Pengunjung Bisa Buat Gerabah

Selain dapat melihat proses pembuatan keramik dari awal hingga selesai menjadi produk akhir, para wisatawan ini juga dapat terlibat langsung.

Tayang:
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Cisilia Agustina
Proses pembuatan gerabah di Tanteri Ceramic Bali, yang berada di Banjar Simpangan, Desa Pejaten, Kediri, Tabanan. 

“Ini berkaitan dengan sejarah awal desa, yang dulunya masyarakatnya hidup dari kerajinan gerabah. Hingga kemudian masuk barang-barang plastik, kerajinan gerabah atau tembikar ini ditinggalkan bergeser pada pembuatan genteng press yang dibutuhkan oleh hotel-hotel. Namun karena stok tanah yang berkurang, Pak Tanteri mencari ide dan merintis keramik di tahun 1984,” ujar Putu.

Hingga kini keramik-keramik tersebut terus dikembangkan dengan sentuhan seni yang kemudian kerap dijadikan suvenir dan pajangan dekorasi.

Tanteri Ceramic pun melakukan ekspor pertama kali pada sekitar 1991.

Keramik Seni dan Fungsi

Ada dua jenis keramik yang diproses Tanteri Ceramic, yakni keramik seni dan keramik fungsi.

Untuk proses yang dilalui pun hampir serupa.

Mulai dari pengolahan tanah, pembentukan keramik dengan alat putar, pengukiran atau dekorasi, pelapisan hingga proses pembakaran.

Hanya saja perbedaan pada bentuk atau sentuhan dekorasi yang lebih artistik untuk kategori keramik seni.

Sementara keramik fungsi lebih ke arah produk untuk kebutuhan sehari-hari, seperti piring, gelas, vas, dan lainnya.

Sementara untuk keramik seni tampil di area museum, berupa guci, pajangan meja dan yang lainnya.

Butuh waktu sekitar lima hari, dari awal proses pembuatan hingga selesai dibakar dan kemudian keramik-keramik ini siap dipasarkan.

Proses yang tidak singkat, yang menyebabkan waktu yang diperlukan pun lebih banyak.

Untuk proses pembakaran harus dilalui sebanyak dua kali.

“Yang pertama kali butuh waktu lima jam dengan suhu 500-800 derajat. Kemudian dilapisi atau coating, baru kemudian dibakar lagi dengan waktu lebih lama yakni 10 jam dengan suhu 1200 -1500 derajat,” ujar I Wayan Sudayasa, pengelola Tanteris Museum. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved