Inspirasi
Kayuh Sepeda Ontel Jualan Tuak Manis, Mangku Cakra Sukses Kuliahkan Anak
Tak sedikit orang mengabaikan tawarannya. Namun wajahnya yang sudah keriput itu selalu menanggapinya dengan senyum ikhlas.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Sudah tua renta.
Punya delapan cucu. Tak selincah seperti dulu lagi.
Ia hanya duduk berteduh di bawah pohon mangga, berharap ada pembeli yang menghampirinya.
Terik menyengat tak menyurutkan niat Mangku Cakra (75) untuk menjajakan jualannya.
Meski sudah uzur termakan usia, dengan sabar kakek yang sudah dikaruniai delapan cucu ini menawarkan botol demi botol tuak manis yang dijualnya.
Tak sedikit orang mengabaikan tawarannya.
Namun wajahnya yang sudah keriput itu selalu menanggapinya dengan senyum ikhlas.
Suara Mangku Cakra terdengar pelan ketika menawarkan tuak manis di depan sebuah rumah makan di Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung, Bali, Rabu (14/10/2015) siang.
Saat itu, karena terik menyengat, ia hanya duduk berteduh di bawah pohon mangga.
Sebanyak 15 botol tuak yang tersisa saat itu diletakkannya di sebuah krat.
"Saya jual tuak manis tidak membuat mabuk bila diminum. Beda dengan tuak wayah (tua). Silakan saja dicoba, enak kok," ujar Mangku Cakra promosi dengan suara pelan.
Sembari menghaturkan canang pada dagangannya, kakek asal Desa Dawan Kaler, Klungkung, ini menceritakan kisahnya berjualan tuak yang dimulainya sejak tahun 1970-an.
Mangku Cakra mengaku, saat itu, ia menjajakan tuak manisnya hingga ke Kota Semarapura.
Namun, karena termakan usia, apalagi mengayuh sepeda ontel tua, ia hanya menjajakan dagangannya di sekitar Kecamatan Dawan seperti Pesinggahan hingga objek wisata Goa Lawah.
"Saya jualan tuak manis sebagai obat alternatif bagi penderita diabetes. Saya biasanya jual ke bapak-bapak. Kalau anak muda biasanya lebih suka dengan tuak yang bisa buat orang mabuk," ujarnya sembari tertawa.
Meskipun aktif berjualan, faktor usia membuat Mangku Cakra tidak lagi bisa memanjat untuk menyadap air nira pohon kelapa yang nantinya dijadikan tuak.
Beruntung, ia dibantu oleh keponakannya untuk menyadap sebanyak 12 pohon kelapa yang dimilikinya.
"Sekarang saya sudah tua, tidak berani memanjat lagi. Keponakan saya yang sekarang memanjat pohon kelapa untuk memproduksi tuak," cerita Mangku Cakra yang saat itu tidak beranjak dari tempatnya berteduh.
Selama sehari, keponakannya tersebut harus memanjat 12 pohon kelapa sebanyak dua kali, pagi dan sore hari.
Dengan itu, ia mengaku maksimal bisa menghasilkan 15 liter tuak manis yang dikemasnya dalam 24 botol tuak.
"Saat ini kan musim kemarau, produksinya tidak maksimal. Paling banyak sekitar 20 botol kalau musim kemarau seperti sekarang, karena cuaca juga berpengaruh pada banyaknya nira yang dihasilkan," keluh Mangku Cakra.
Meskipun harus berjualan tuak manis dengan mengayuh sepeda tua, tetes keringat Mangku Cakra tidak sia-sia.
Dari botol demi botol tuaknya tersebut ternyata mampu menyekolahkan enam anaknya.
Bahkan, anaknya lulus hingga perguruan tinggi dan ada putranya yang bekerja di bidang perpajakan di Bekasi, Jawa Barat.
"Ya, syukuri saja bukan karena hasil tuak saja. Semua karena sama-sama mencari rezeki dengan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa," terangnya dengan tersenyum.
Mangku Cakra menjual satu botol tuak manis dengan harga Rp 7.000.
Jika terjual habis, Mengaku Cakra mengaku mengumpulkan uang sebanyak Rp 180.000 per hari.
"Ya, kalau langganan datang baru bisa terjual habis. Kalau sepi seperti sekarang, ya dapat jualannya tidak terlalu banyak," pungkas Mangku Cakra. (*)