Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Diskusi 200 Tahun ‘Gejer’ Bali, Gempa yang Telan 10.252 Korban Jiwa

22 November 1816 terjadi gempa bumi Bali yang berpusat di Buleleng, Selatan kerajaan Buleleng. Gempa bumi itu menelan 10.252 korban jiwa.

Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: gunawan
balai3.denpasar.bmkg.go.id
Peta sumber gempabumi merusak wilayah Bali 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Diskusi 200 tahun Gejer (Gempa) Bali digelar di Puri Kanginan Singaraja, Minggu (22/11/2015). Diskusi ini menghadirkan tiga pembicara, diantaranya Anak Agung Ngurah Sentanu, I Made Kris Adi Astra, dan Gede Kresna.

Anak Agung Ngurah Sentanu, perwakilan Puri Kanginan Singaraja membicarakan tentang peristiwa bencana alam letusan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada 5 April 1816 silam beserta dampaknya.

Saat itu menurutnya, letusan ini sangat berdampak pada iklim di dunia, tidak terkecuali Bali yang jaraknya cukup dekat dengan lokasi gunung.

“Terjadi perubahan iklim dunia yang sangat besar, dan ketika itu dikenal sebagai tahun tanpa panas, dampak cuacanya sampai Amerika dan Eropa. Banyak panen yang gagal, ribuan manusia meninggal, ternak mati, kelaparan sampai kanibalisme,” ujarnya.

Tujuh bulan berselang, tepatnya 22 November 1816 terjadi gempa bumi Bali yang berpusat di Buleleng, Selatan kerajaan Buleleng. Gempa bumi itu menelan 10.252 korban jiwa.

I Made Kris Adi Astra dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bali mengatakan, gempa Bali ini masih berkaitan dengan letusan Gunung Tambora tujuh bulan ssebelumnya.

 “Efek letusan Tambora menyebabkan perubahan iklim yang sangat drastis, tidak ada panas, hujan terus menerus, saat gempa bumi terjadi, tanah menjadi rapuh dan diikuti air bah, ini juga diceritakan dalam Babad Buleleng dan Babad Panji Sakti,” ungkapnya.

Dikatakan, pegunungan-pegunungan ketika itu rapuh dan menjadi longsor.  Menurutnya pegunungan di Bali menjadi satu kesatuan sampai pegunungan di Alor.

“Di Bali ini dikelilingi pegunungan purba yang menjadi satu kesatuan dan sudah rapuh. Ada pegunungan purba di Pulaki, ada Batukaru, Buyan, Beratan, Tamblingan, Batur, Rinjani, Tambora, jadi satu jalur ini mereka,” katanya.

Jalur-jalur pegunungan ini menurutnya adalah pembangkit gempa bumi yang akan tetap hidup dan menghasilkan gempa bumi. Jalur ini melintas di bawah laut sepanjang Selatan Bali.

“Di bawah laut ada bebatuan yang masuk merangsek ke bawah, hasil penelitian dari BMKG, pada kedalaman tertentu sekitar 130-150 kilometer di bawah Bali, batuan ini mulai meleleh karena gesekan dan panas yang terjadi, sehingga menghasilkan magma di Gunung Agung, sedangkan gesekan-gesekan yang turun mengahsilkan gempa bumi di selatan Jawa Bali, NTB dan NTT,” jelasnya.

Selain pembangkit gempa bumi di Selatan, di Bali juga ada pembangkit gempa bumi dari Utara, sehingga Pulau Bali ini diapit oleh dua pembangkit gempa bumi.

Bahkan menurutnya, pembangkit gempa bumi Utara ini lokasinya ada di bawah laut Buleleng. Patahan pembangkit gempa bumi ini memanjang dari Bali, Lombok, Flores, Alor sampai laut Banda.

Pembangkit gempa bumi Utara inilah yang menyebabkan gempa bumi Buleleng 1815, gempa Seririt 1976 dan Karangasem 1979. Meski telah memastikan lokasi gempa bumi, tetapi ia tidak dapat memastikan waktu akan terjadinya gempa bumi di Buleleng.

“Yang Utara ini lebih berbahaya dari Selatan karena berjarak lebih dekat dari pemukiman penduduk dan lebih berpotensi bangkit kembali karena kedalaman yang dangkal dan berpotensi menyebabkan kerusakan yang luar biasa,” katanya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved