Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Uniknya Ngusaba Kaulu di Karangasem, Sayo Ramai-ramai Tebas Sapi untuk Keselamatan

Apabila saat pelepasan, sapi lari ke arah utara, maka kesuburan akan menghampiri. Jika sapi lari ke arah selatan maka simbol kemakmuran, kesejahteraa

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Gunawan
Para sayo menebas sapi yang dijadikan pecaruan. Prosesi ini merupakan rangkaian Ngusaba Kaulu yang dilaksanakan setiap tahun sekali. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Ratusan warga Desa Adat Asak, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Bali tampak berkumpul di Pura Patokan Teruna, Kamis (14/1/2016).

Mereka mengenakan pakaian adat dengan membawa sesaji.

Warga menghaturkan banten sebelum rangkaian tradisi Ngusaba Kaulu dimulai.

Sayo atau pemuda yang bertugas menebas sapi jantan dengan membawa senjata Sudamalo juga sudah menunggu di Pura Patokan.


Para sayo menunggu sapi jantan keluar dari Pura Patokan Teruna yang dibekali senjata Sudomala pada tradisi Ngusaba Kaulu, Desa Adat Asak, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Kamis (14/1/2016). (TRIBUN BALI/SAIFUL ROHIM)

Mereka meminta keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Setelah ritual, sapi jantan yang menjadi sarana diputar sebanyak tiga kali di Pura Patokan simbol Dewa Siwa.

Kemudian para sayo melakukan prosesi penebasan sekali bagian paha.

“Sapi dilepas ke jalan. Puluhan sayo yang dibekali senjata mengejar dan menebas hingga mati. Ini wujud ngayah kami kepada desa,” ujar seorang sayo, I Wayan Budianta kepada Tribun Bali, kemarin.

Prosesi penebasan sapi jantan berlangsung sekitar 30 menit.

Sapi 16,7 juta itu mati dan darah sapi banyak menempel di badan para sayo.

Menurut para sayo, darah sapi adalah sebuah keberkahan dan kesejahteraan.


Para sayo menunggu sapi jantan keluar dari Pura Patokan Teruna yang dibekali senjata Sudomala pada tradisi Ngusaba Kaulu, Desa Adat Asak, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Kamis (14/1/2016). (TRIBUN BALI/SAIFUL ROHIM)

Bendesa Adat Asak Jero Dukuh, Ketut Sutha menjelaskan, Ngusaba Kaulu dilaksanakan setiap tahun digelar.

Ritual murni dari dana pemuda merupakan warisan dari nenek moyang sebelumnya.

Menurutnya, sayo dilarang mengenai bagian kepala dan ekor.

Jika mengenai maka denda senilai harga sapi

Hingga sekarang belum ada sayo yang menebas mengenai kepala dan ekornya.

Setelah sapi di-sepeg, dagingnya akan dihaturkan untuk prosesi pecaruan.

Lalu dimakan teruna-teruni Desa Adat sebagai simbol kesenangan.

“Sebelum dimakan, dagingnya dihaturkan dulu ke Pura Patokan untuk ritual,” imbuhnya.

Bagi krama Desa Adat Asak ini memiliki makna begitu dalam.

Ngusaba Kaulu bermakna sebagai prosesi ritual untuk menyeimbangkan alam semesta dunia.

Prosesi ini mencerminkan pengorbanan Nandini kepada Syiwa dengan sapi jantan.

Sebelum sapi ditebas maka terlebih dahulu dihias dan dimandikan.

Hal itu dilakukan demi kesucian sapi.

“Ini untuk keseimbangan alam semesta dan kepentingan umat manusia,” jelas Sutha.

Apabila saat pelepasan, sapi lari ke arah utara, maka kesuburan akan menghampiri.

Jika sapi lari ke arah selatan maka simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan kebijaksanaan.

Arah timur simbol kebahagian, dan arah barat simbol dari kegelapan.

“Tadi sapi lari ke arah selatan. Saya yakin kesejahteraan dan kemakmuran akan menghampiri umat manusia. Saya juga yakin pemerintahan teratur,” jelasnya.

Ia berharap setelah menggelar Ngusaba Kaulu umat manusia semakin sejahtera dan makmur.

Alam semesta yang kini ditempati menjadi seimbang.

Setelah ini, krama desa akan menggelar rangkaian Ngusaba Kaulu berupa persembahyangan di Pura Patokan Teruna.

Menurutnya ritual ini, dana murni dari pemuda Desa Asak.

Jumlah warga sebanyak 1.327 jiwa yang terdiri dari dua banjar yaitu Banjar Asak Kangin dan Asak Kawan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved