Tarian Kontemporer Siswa Trisma Bikin Beda dengan Sekolah Lainnya
Gelar budaya ini merupakan rangkaian acara puncak Hari Ulang Tahun Trisma ke-39 yang bertemakan berinovasi, berkreativitas dan berintegritas.
Laporan Wartawan Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pengantar cerita mengumandangkan alur cerita penampilan gelar budaya SMAN 3 Denpasar (Trisma).
Suara riuh nyaring terdengar di area lapangan sekolah.
Siswa-siswi dan guru terlihat duduk di lapangan yang beratapkan tenda biru menyaksikan pementasan dari tiga angkatan Trisma.
Terik sinar matahari tak menyurutkan kesungguhan siswa yang menari membawakan persembahan mereka.
Gelar budaya ini merupakan rangkaian acara puncak Hari Ulang Tahun Trisma ke-39 yang bertemakan berinovasi, berkreativitas dan berintegritas.
I Made Dwi Hamerta Putra, Ketua Panitia mengatakan ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan kreativitas tiap angkatan.
“Gelar budaya ini diikuti oleh tiga angkatan yang menyajikan tema yang berbeda-beda,” ungkap Dwi saat ditemui Tribun Bali, Minggu (17/1/2016).
Dwi mengatakan gelar budaya ini baru mulai tahun 2015, setiap angkatan ikut berpartisipasi.
Ketiga angkatan ini menampilkan tarian kontemporer yang mana angkatan 37 (kelas XII) menampilkan tarian dengan tema Kebo Iwa, angkatan 38 (kelas XI) menampilkan Dalem Balingkang dan angkatan 39 (kelas X) menampilkan Baruna Mukti.
“Saya berharap dengan adanya gelar budaya ini bisa mengamalkan empat pilar Trisma yaitu kedisiplinan, kesederhanaan, kebersamaan dan kekeluargaan,” kata Dwi.
Keempat pilar itu yang selalu ditanamkan kepada siswa dan guru untuk menjaga visi Trisma yang berbudaya.
Dwi mengatakan tak takut tampil beda dengan Sekolah Menengah Atas pada umumnya yang mengadakan konser hingga mengundang band ternama untuk perayaan ulang tahun.
“Kami tidak takut tampil beda karena ciri khas Trisma itu berbudaya. Kalau bukan kita siapa yang melestarikan budaya?,” tanyanya.
I Kadek Agus Wianarta, Ketua OSIS Trisma mengaku kalau perayaan ulang tahun Trisma itu lain dari yang lain.
“Kami menampilkan tari-tarian dan gamelan yang berkaitan erat dengan budaya Bali. Seperti kami juga memiliki tarian mascot Trismaya yang ditampilkan oleh siswa-siswi Trisma,” jelas Agus.
Agus mengatakan inilah bentuk dari pelestarian warisan budaya leluhur sehingga bisa belajar dari sejarah.
“Dengan ini kami tau sejarah dari budaya, saya harap bersekolah di Trisma juga bias menjaga budaya sehingga tidak terpengaruh hal-hal negatif,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/siswa-siswi-trisma_20160117_180311.jpg)