Krama Desa Sidatapa Pertahankan Bangunan Rumah Adat
Meski berada di pinggir jalan, rumah-rumah itu justru menghadap membelakangi jalan.
Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Kander Turnip
TRIBUN-BALI.com, SINGARAJA - Rumah-rumah berdinding tanah liat masih berdiri kokoh di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.
Rumah adat bernama Bale Gajah Tumpang Salu itu dengan mudah dapat ditemui di pinggir jalan desa yang berada di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut itu.
Meski berada di pinggir jalan, rumah-rumah itu justru menghadap membelakangi jalan.
Satu di antaranya rumah yang dihuni Putu Wisnu (24) bersama istrinya, Komang Agus Mustika Dewi (17) serta neneknya, Made Ari (80).
Rumah adat berukuran sekitar 7x15 meter ini terdiri dari tiga ruangan, antara lain, Jaba Jero, Jaba Tengah dan Jabahan.
Saat itu, Wisnu bersama Dewi sedang menganyam bambu untuk dijadikan sebuah sangkar ayam di Jaba Tengah, ruangan yang biasa digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Ruangan itu juga digunakannya untuk tidur bersama keluarganya.
“Di sini (Jaba Tengah) setiap hari kami buat kerajinan dari bambu, ada berupa sangkar ayam, tempat bebantenan, tempat makanan. Ini saja kerjaan kami, sudah jadi tradisi menganyam di desa kami, hampir semua warga desa menganyam sebagai pekerjaan,” ujar Wisnu.
Wisnu menempati rumah itu sejak dari kecil bersama neneknya.
Rumah itu menurutnya adalah peninggalan leluhurnya yang sudah ditempati sejak turun temurun. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rumah-adat-di-desa-sidatapa-buleleng_20160118_193500.jpg)