Terlihat Nyaris Tabrakan, Padahal Garuda dan Lion Air Tunggu Giliran Mendarat
Sebab, dalam kondisi cuaca yang buruk, pesawat terdahulu yang semestinya sudah mendarat menjadi tak bisa melakukannya.
Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Karena dari berlainan arah, maka kedua pesawat harus mengambil belokan ke kiri dan ke kanan dengan posisi pesawat Lion di ketinggian 14.000 feet (kaki) dan Garuda 15.000 kaki.
Karena holding pada putaran yang sama, yakni di Point Kuta, maka pada setiap satu putaran, kedua pesawat akan terlihat bertemu di satu titik namun sebetulnya keduanya berada pada ketinggian berbeda.
“Karena mereka sama-sama berputar atau holding dan secara bersamaan disuruh turun, maka kedua pesawat turun. Tapi, sepertinya salah-satu pesawat terlambat menerima perintah untuk menurunkan ketinggiannya, sehingga jarak kedua pesawat menjadi lebih dekat dan disebut oleh media hampir tabrakan. Padahal, jarak keduanya masih tergolong aman,” tutur pilot itu kepada Tribun Bali.
Jarak vertikal antar pesawat selebar 1.000 kaki termasuk dalam jarak aman berdasarkan standar internasional.
Dijelaskan pilot itu, jika jarak ketinggian antar-pesawat di udara sekitar 200 meter atau di bawah 1.000 kaki, maka alat di dalam pesawat yang disebut TACAS (Traffic Alert and Collision Avoidance System) akan berbunyi “traffic, traffic”.
Kalau hal tersebut di atas terjadi, pesawat yang berada di posisi lebih tinggi akan diperintahkan untuk “Climb” atau naik; sedangkan pesawat yang berada di posisi bawahnya akan diperintahkan untuk “Descend” atau turun.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bandara_20160211_183916.jpg)