Dharma Wacana
Bangun Sifat-sifat Kedewataan dengan Pelaksanaan Hari Raya
Dengan konsep transformasi tersebut, berarti kita juga mengalami perubahan dalam hidup.
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Usai melaksanakan hari raya suci, dari pengharapan semula secara aktivitas kita telah melakukan pendakian spiritual.
Pendakian ini adalah sebuah proses.
Setelahnya jangan bertanya kepada orang lain, tanyakan pada diri kita.
Apakah proses pendakian tersebut sukses kita lakukan?
Setelah melakukan proses, kita ingin menuju pada satu titik yaitu bertemu atau melakukan perjumpaan dengan Tuhan.
Modal awal untuk melakukan perjumpaan tersebut dengan melakukan tranformasi dalam diri.
Ketika sudah terjadi transformasi, maka secara otomatis kita telah melakukan perjumpaan dengan Tuhan atau Brahman.
Perjumpaan itu bukan perjumpaan fisikal tapi perjumpaan spirit.
Dengan konsep transformasi tersebut, berarti kita juga mengalami perubahan dalam hidup.
Hasilnya harus ada output dan outcome.
Setelah banyak hal dan sesuatu yang kita lalui pada hari raya yang suci, tapi tidak menimbulkan output yang lebih apalagi tidak menghasilkan outcome, maka kita beragama dengan sia-sia.
Harapan dari sebuah hari raya melakukan persembahyangan dengan taat bukan temporer tapi permanen.
Tujuan sejatinya untuk membangun sifat-sifat kedewataan.
Kelahiran adalah proses kejatuhan, degradasi.
Melalui beragama kita melakukan gradasi yang tak lain merupakan proses peningkatan.