Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pasar Badung Terbakar

Terungkap, Pedagang Pasar Badung Blak-blakan Soal Pungutan Liar yang Mencekik

Permainan-permaianan kotor ini, kata dia, terjadi mulai dari pedagang kecil sampai pedagang besar di Pasar Badung.

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Rizal Fanany
Suasana barang-barang yang terbakar di Pasar Badung, Rabu (2/3/2016) 

Berdasarkan penelusuran Tribun Bali mulai dari pedagang kecil sampai pedagang besar di Pasar Badung, sejumlah pedagang yang sempat diajak membahas soal ini mengalihkan pembicaraan.

Rata-rata mengaku lupa.

Namun, sejumlah pedagang ada yang mau blak-blakan mengungkap soal pungutan asalkan identitasnya tidak ditulis.

Pemilik salah satu kios di Pasar Badung, AEI yang berjualan di lantai dua pasar ini mengaku dipungut per bulan sebesar Rp 300.000 oleh petugas pasar.

Sementara, AKM, pemilik kios lain mengaku ada pungutan harian dan ada pula pungutan bulanan.

"Kalau pungutan harian itu tidak mesti harus dibayar setiap hari. Bisa satu minggu sekali, bisa dua minggu, tiga minggu sekali. Terakhir saya bayar untuk dua minggu Rp 300 ribu. Kalau bulanan lain lagi Rp 300 ribu untuk satu kios," kata AKM kepada Tribun Bali.

AKM mengaku para pedagang sebetulnya keberatan atas banyaknya pungutan-pungutan yang diminta setiap hari, dan setiap bulan yang jumlahnya besar.

"Mereka memungut-memungut saja, tapi mereka tidak memikirkan apa kami dapat jualan atau gak. Baru dua bulan lalu ada kenaikan Rp 150 ribu. Makanya kami kaget kok besar sekali kenaikannya. Secara tiba-tiba dinaikkan," tutur AKM.

Di luar gedung pasar, terdapat juga ratusan pedagang yang berdesak-desakan setiap hari.

Ada yang berjualan di areal sisi timur pasar, ada yang di sisi barat, ada pula yang di trotoar-trotoar jalan di pasar terbesar di Bali ini.

Bahkan, di jembatan pun terlihat banyak pedagang berjubel setiap hari.

Salah satu pedagang yang sering berjualan di atas trotoar yang akrab disapa Bu Wina mengaku setiap hari rata-rata dipungut sebesar Rp 20 ribu.

"Berapa ya, saya tidak pernah hitung. Iya sekitar segitulah (Rp 20 ribu per hari)," ucap pedagang buah ini.

Made Selly, pemilik kios lantai satu yang berjualan di sisi barat Pasar Badung mengaku setiap hari dimintai iuran dua kali, yakni siang dan malam.

"Kalau saya, siang dan malam diminta. Kena siang malam. Malamnya Rp 13 sama 17 ribu. Kalau gak salah siangnya bayar Rp 24 ribu," ujarnya dengan nada mengeluh.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved