Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dibalik Anak yang Sukses, Ada Orangtua yang Hebat

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, masyarakat diajak untuk meresapi pentingnya pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.

Tayang:
Editor: Irma Yudistirani
kompas.com
ilustrasi 

Citizen Journalism: IGAAG Dewi Sucitawathi P SSos MSi, Dosen Undiknas Denpasar

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, masyarakat diajak untuk meresapi pentingnya pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.

Perlu kita sadari bahwa sebenarnya pendidikan pertama seorang individu diperoleh dari lingkungan keluarga.

Bahkan banyak orang mengatakan keluarga merupakan faktor dominan yang mempengaruhi kualitas sumber daya anak, baik kecerdasan intelektual (hard skill) dan non-intelektualnya (soft skill).

Menurut definisinya, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, anak, hidup dalam satu atap, dan hidup dalam kondisi saling bergantung [Sugeng, Iwan ‘Pengasuhan Anak dalam Keluarga].

Sedangkan anak adalah individu laki-laki atau perempuan yang belum dianggap dewasa/belum mengalami masa puber.

Melihat definisi di atas, kita dapat mengetahui bahwa perkembangan anak sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama bagi anak untuk membentuk jati diri, kepribadian serta karakter.

Kualitas seorang anak, baik maupun buruknya sangat keras dipengaruhi oleh pendidikan yang diberikan oleh orangtua mereka.

Banyak orang percaya dibalik kesuksesan seorang anak, terdapat orangtua yang hebat.

Orangtua kadang melupakan fungsi penting keluarga yang disebut sebagai fungsi pendidikan.

Fungsi pendidikan (education) berguna dalam mempersiapkan karakter, mental dan masa depan anak dikemudian hari.

Kurangnya perhatian menjadi masalah utama yang sering ditemukan pada keluarga di perkotaan (urban).

Arus globalisasi juga menjadi salah satu faktor penyebab semakin lunturnya nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan antara anak dan orangtua.

Orangtua zaman sekarang beranggapan ketika mereka sudah bekerja mencari uang dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dirasa sudah lebih dari cukup, padahal sebenarnya si anak tidak hanya perlu dipenuhi kebutuhan lahiriahnya, tapi justru kebutuhan batiniah seperti rasa kasih sayang, perhatian yang mana lebih condong anak perlukan dalam hal ini, dan fungsi keluarga yang disebut fungsi perasaanlah (feeling) seharusnya dominan berperan dalam hal tersebut.

Ketika anak merasa tidak mendapatkan rasa kasih sayang berupa perhatian dari orangtua mereka, maka tidak jarang si anak akan mencari kenyamanan diluar lingkungan rumah, dan berbahayanya lagi jika anak tersebut terjerumus ke dalam pergaulan negatif yang bermuara pada kasus kenakalan remaja.

Selama ini seorang anak selalu berada pada posisi bersalah/obyek penderita pada kasus kenakalan remaja, dan banyak masyarakat kurang menyadari disinilah peranan orangtua dalam mendidik anak sangat diperlukan.

Ibarat peribahasa ‘melentur buluh biar dari rebungnya’ yang berarti mendidik anak hendaknya sejak kecil, karena ketika sudah dewasa karakter, watak, dan perangainya susah dibentuk.

Para orangtua zaman sekarang seharusnya melakukan introspeksi diri dengan mengubah cara berpikir dan kebiasaan yang dulu mungkin menyempatkan sedikit waktu bagi anak, sekarang mulai diubah, misal dengan cara sesibuk sibuknya atau semalam-malamnya pulang kerja, orangtua harus meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak.

Orangtua harus sadar pertemuan dengan anak tidak hanya sekedar bertemu biasa atau sekedar formalitas untuk menjalankan kewajiban sebagai orangtua ke anak, tetapi lebih dari itu orangtua harus memperhatikan ‘kualitas pertemuan’nya, misal orangtua bisa menanyakan kegiatan yang anak lakukan seharian, kegiatan sekolah mereka, pr mereka, dan alangkah baiknya orangtua menawarkan bantuan untuk membantu anak mengerjakan pr mereka bersama-sama.

Dengan cara tersebut, anak akan merasa mendapatkan perhatian dari orangtua mereka, walaupun hanya sedikit waktu tetapi jika dimanfaatkan dengan baik akan menghasilkan efek luar biasa bagi hubungan anak dengan orangtua. Seperti kata pepatah ‘small is beautiful’, kecil/sedikit itu indah, kadang hal-hal kecil yg bisa orangtua berikan kepada anak (kualitas pertemuan) malah lebih mendekatkan hubungan diantara mereka.

Keluarga sangat memegang peranan penting bagi perkembangan karakter dan mental seorang anak.

Melalui keluarga pula, anak pertama kali belajar bersosialisasi sebagai individu pribadi yang dihadapkan pada hak dan kewajiban mereka terhadap anggota keluarga lainnya.

Sehingga ketika terjun ke masyarakat, si anak mampu menyesuaikan perilaku dengan nilai-nilai tata krama dan sopan santun.

Ketika anak sudah dididik secara positif oleh keluarga mereka maka cerminan tingkah laku, kepribadian, karakter yang dihasilkan juga pasti berbuah hal yang positif.

Pentingnya peran keluarga dalam menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas harus disadari betul oleh para orangtua zaman sekarang yang sebagian besar disibukkan oleh pekerjaan kantor mereka.

Keharmonisan antara ayah dan ibu dari sang anak sangat besar mempengaruhi perkembangan kejiwaan seorang anak. Keluarga broken home, tidak harmonis, penuh dengan konflik, ‘lack of communication’/kurang komunikasi cenderung bisa menghasilkan anak dengan tipikal pendiam, minder, kuper.

Kondisi seperti itu akan dibawa sejak kecil dan sangat besar mempengaruhi jati diri si anak ketika sudah dewasa.

Jadi intinya menjadi orangtua tidak mudah, tanggung jawabnya besar, jika ingin memiliki seorang anak yang cerdas maka jadilah orangtua yang hebat.

Jangan hanya semangat saat-saat ingin ‘punya/mendapatkan’ anak saja, tetapi setelah itu  tidak semangat/malah tidak peduli untuk ‘memperhatikan’ perkembangan si anak.

Masa depan seorang anak sangat besar dipengaruhi oleh faktor keluarga.

Pihak orangtua dalam hal ini, harus mampu menciptakan kualitas didikan yang baik.

Sehingga nantinya diharapkan si anak bisa menjadi generasi muda yang membanggakan keluarga dan negara. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved