Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Opini

Opini: Reputasi Bali di Persimpangan Jalan, Pengawasan Orang Asing Jadi Titik Krusial

Bali kini sedang berada di persimpangan jalan di mana kemilau sebagai destinasi kelas dunia mulai digerus oleh akumulasi persoalan sistemik. 

Tayang:
Istimewa
SOSOK - Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran Bandung, Jannus TH Siahaan 

Oleh: Jannus TH Siahaan

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran Bandung

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali kini sedang berada di persimpangan jalan di mana kemilau sebagai destinasi kelas dunia mulai digerus oleh akumulasi persoalan sistemik. 

Di satu sisi, angka-angka statistik yang dirilis otoritas menunjukkan tren pemulihan yang cukup positif, dengan rekor kunjungan wisatawan mancanegara menembus angka 7 juta orang pada tahun 2025. 

Namun, di balik narasi kesuksesan kuantitatif tersebut, terselip anomali yang cukup mencemaskan. 

Baca juga: Kisah Haru Dokter Arimbawa, Rawat Putrinya Hingga Jadi Survivor Epilepsi

Pada April 2026,  tamparan keras datang dari Kedutaan Besar Korea Selatan yang secara resmi mengeluarkan travel warning bagi warganya yang hendak berkunjung ke Pulau Dewata. 

Peringatan tersebut menjadi sinyal merah bahwa di Bali, di salah satu koridor ekonominya, misalnya koridor ekonomi Sanur, Seminyak, dan Canggu, sedang bergulat dengan eskalasi kriminalitas serius yang mulai menggerus fondasi keamanan pariwisata.

Penurunan reputasi ini tentu tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi dilatarbelakangi ledakan dari berbagai masalah yang sudah lama ada. Bali sedang mengalami fenomena pariwisata yang lelah atau over tourism yang terkonsentrasi di wilayah Selatan. 

Bayangkan, di tengah kerumunan jutaan turis, berbarengan dengan jalanan macet total, sistem drainase yang kewalahan, hingga krisis sampah yang membuat wajah pantai-pantai ikonik tampak kumuh. 

Baca juga: Sunset Island BBQ Night Hadir dengan Konsep Baru di HARRIS Hotel & Residence Sunset Road

Otoritas mencatat ada penurunan kunjungan wisatawan domestik sekitar 700.000 orang sepanjang tahun 2025, yang mengindikasikan bahwa warga lokal Indonesia sendiri saja mulai merasa enggan berwisata ke Bali karena kepadatan yang tidak lagi memberikan rasa nyaman. 

Krisis identitas pun muncul ketika ruang-ruang sakral seperti pura sering kali dinodai oleh perilaku buruk wisatawan yang hanya mengejar konten media sosial tanpa memahami esensi budaya lokal.

Faktor lain yang juga cukup mengkhawatirkan adalah pergeseran pola kriminalitas di wilayah hukum Denpasar dan sekitarnya. 

Data Kepolisian Daerah Bali menunjukkan lonjakan kejahatan yang melibatkan warga negara asing, baik sebagai pelaku maupun korban, meningkat hingga 47 persen sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. 

Bali tidak lagi hanya berhadapan dengan jambret jalanan atau penipuan tarif taksi, tapi operasi sindikat kriminal internasional. 

Kasus-kasus mengerikan seperti penculikan dan mutilasi warga negara Ukraina di Gianyar, hingga pembunuhan berencana terhadap warga negara Belanda di Kuta Utara, ikut mencoreng citra Bali yang sebelumnya terkenal sebagai tempat yang aman dan damai. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved