Sosok
Kisah Haru Dokter Arimbawa, Rawat Putrinya Hingga Jadi Survivor Epilepsi
ia mengatakan, beberapa obat dan pengobatan juga sudah pernah ia lakukan dan berikan kepada putrinya.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Dokter Made Arimbawa merupakan salah satu tenaga medis yang memiliki anak perempuan dengan epilepsi.
Ketika ditemui di seminar awam bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja" yang dilangsungkan oleh SMC RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center di Kuta, Bali, Sabtu 11 April 2026, dr. Arimbawa menceritakan bagaimana mulanya putrinya mengidap epilepsi.
Dulunya, dr. Arimbawa bertugas di Lombok selama 21 tahun, kemudian sekarang pindah ke Bali dan bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli.
"Anak saya mengalami epilepsi kebal obat itu berawal di tahun 2008, pada saat umurnya kurang lebih 6,5 tahun, TK besar, tiba-tiba kejang. Kemudian kami juga melaksanakan beberapa pengobatan tentunya tapi kalau melihat hal itu akan kembali sedih rasanya," jelasnya.
Baca juga: Kisah Jasa Ojek Pamedek di Besakih, Rela Antre Mengais Rezeki Pagi hingga Malam
Lebih lanjutnya ia mengatakan, beberapa obat dan pengobatan juga sudah pernah ia lakukan dan berikan kepada putrinya.
Kurang lebih terdapat 8 jenis obat mulai dari golongan Topiramate sampai terakhir Zonisamide.
Obat tersebut diberikan secara rutin oleh dokter spesialis, dan dari dokter spesialis itu juga mengharapkan harus menghindari faktor pemicu, namun tetap saja putrinya tiba-tiba mengalami kejang.
Lalu di awal 2016, ia mendapatkan informasi bahwa Rumah Sakit Tlogorejo, Semarang, melaksanakan tindakan bedah epilepsi, khusus untuk epilepsi refrakter atau epilepsi kebal obat.
Pada saat itu ia mencoba menghubungi nomor kontak Rumah Sakit Tlogorejo, dan mendapatkan nomor kontak poli bedah sarafnya, ia langsung berkomunikasi dengan Spesialis Bedah Saraf yakni Prof Zainal.
"Nah beliau menyarankan karena kami jaraknya waktu itu jauh dari Lombok ke Semarang agar nanti tidak lama pemeriksaan di Semarang, beliau menyarankan mohon disiapkan video pada saat putri kami kejang dari awal sampai dengan berakhirnya kejang, yang kedua menyiapkan data-data pendukung apapun jenis pemeriksaan yang sudah dilakukan tolong disiapkan. Kemudian yang ketiga juga menyiapkan hasil lab terakhir," imbuhnya.
Setelah mendapatkan informasi seperti itu tidak berselang lama anaknya kembali kejang.
Saat itu, dr. Arimbawa mengatakan ia langsung mencari rujukan berjenjang dari Puskesmas kemudian ke Rumah Sakit Umum Mataram dari poli bedah saraf Rumah Sakit Mataram juga ke poli bedah saraf Rumah Sakit Tlogorejo.
Pada saat itu kalau tidak salah tanggal 7 April 2026, anaknya sempat diperiksa oleh Prof Zainal.
Kemudian di Rumah Sakit Tlogorejo juga dilaksanakan pemeriksaan kembali yaitu MRI dan EEG serta pendukung-pendukung lainnya sebelum dilakukan tindakan operasi.
Pada saat itu dicurigai dan juga didapatkan bahwa epilepsi yang anak dr. Arimbawa idap adalah di Epilepsi Lobus Temporal sehingga pada tanggal 10 April dilakukan tindakan operasi pertama kali di Rumah Sakit Tlogorejo, dan operasi berjalan dari pukul 14.00 siang sampai dengan jam 22.00 malam sampai pemulihan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kisah-Haru-Dokter-Arimbawa-Rawat-Putrinya-Hingga-Jadi-Survivor-Epilepsi.jpg)