Sosok
Kisah Haru Dokter Arimbawa, Rawat Putrinya Hingga Jadi Survivor Epilepsi
ia mengatakan, beberapa obat dan pengobatan juga sudah pernah ia lakukan dan berikan kepada putrinya.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
"Kemudian setelah operasi Prof Zainal juga memberikan informasi ke kami bahwa operasi berjalan lancar dan dari hasil pemeriksaan sebelum reseksi sebelum dilakukan tindakan itu kan ada dua titik yang aktif tapi setelah di pos reseksi cuma ada 1 yang muncul itu di daerah temporal kiri Sedangkan di daerah temporal kiri. Sedangkan didaerah Hippocampus karena pusat memori tidak muncul kemudian dipertahankan dulu," paparnya.
Kemudian dari hasil LAPA pemeriksaan patologi anatomi terdapat heterotopia yang dibawa sejak lahir.
Setelah dirawat 11 hari pasca operasi, anak dr. Arimbawa sudah bisa dipulangkan dengan advice dari Prof. Zainal obatnya dilanjutkan dan kontrol 3 bulan.
Setelah operasi pertama dengan waktu kurang lebih 1 bulan anaknya kembali alami kejang.
Kemudian kembali ke Rumah Sakit Tlogorejo dan rencananya waktu itu anak dr. Arimbawa akan dilakukan Pemeriksaan EEG long term.
Singkatnya dari hasil observasi tim dokter akan merencanakan tindakan bedah yang kedua dan dilakukan di tanggal 23 Juli 2016.
Tindakan operasi ulang yang kedua di rumah sakit Karyadi, Semarang kemudian dari hasil lab BI-nya dinyatakan pada saat itu ada kelainan yang di Hipokampus karena pada saat operasi pertama Hippocampus itu dipertahankan dan juga tidak muncul pusat fokus epileptinya.
Pada saat operasi yang kedua, diambil Hippocampus sebelah kiri dan sebagian juga jaringan temporal yang mungkin pada saat itu masih mengganggu.
Dari hasil pemeriksaan PA patologi anatomi menyatakan bahwa di Hippocampus itu terdapat suatu kerusakan.
Kemudian yang di bagian temporal itu juga sudah terdapat suatu kerusakan.
"Setelah operasi yang kedua di rumah sakit Karyadi, Semarang syukur kejang putri kami itu tidak sering. Sarannya waktu itu Prof Zainal setelah dilakukan tindakan obat hanya dua macam kemudian tetap dilakukan hindari pemicunya itu misalnya pemicu hati-hati kalau terlalu lelah, kurang tidur atau mungkin gangguan Photometric, gangguan-gangguan sinar itu yang harus dihindari," bebernya.
Dari 10 tahun terakhir sejak operasi kedua sampai sekarang kejang yang tercatat pada anak dr. Arimbawa hanya 5 kali dalam 10 tahun jauh sekali menurun yang dulunya dapat terjadi kejang 3-4 kali per minggu.
Sekarang usia putri dr. Arimbawa 23 tahun dan sudah menamatkan pendidikan S1 Prodi Hukum.
Di bidang akademik anaknya beberapa kali mendapatkan umum juara umum saat SD dan SMP.
Saat ini, anak dr. Arimbawa menekuni AI animasi salah satu perusahaan Jepang yang berlokasi di Ubud.
"Jadi bisa lah, sangat bersyukur ya harapan kami selaku anggap lah putri kami ini adalah penyintasnya kan begitu. Harapannya dengan kemajuan juga ilmu kedokteran semua khususnya penderita epilepsi dapat tertangani dengan baik stigma di masyarakat juga tidak akan menyebabkan mereka-mereka jadi down mentalnya," pungkasnya.
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kisah-Haru-Dokter-Arimbawa-Rawat-Putrinya-Hingga-Jadi-Survivor-Epilepsi.jpg)