Inspirasi
Awalnya Dibilang Aneh, Ni Luh Kartini Sukses Dirikan Yayasan BOA Karena Cacing
Tahun 1970, Ni Luh Kartini kecil diberikan tugas oleh orangtuanya mengembala bebek ke sawah.
Penulis: Luh De Dwi Jayanthi | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tahun 1970, Ni Luh Kartini kecil diberikan tugas oleh orangtuanya mengembala bebek ke sawah.
Tugas itu biasanya ia lakukan sepulang sekolah.
Sebanyak 100 ekor bebek ia giring menuju sawah untuk mencari cacing sebagai pakan bebek.
Kartini lahir di Desa Bulian, Kecamatan Kututambahan, Kabupaten Buleleng tanggal 21 April 1962.
Anak sulung yang lahir dari keluarga petani ini sudah akrab dengan pertanian sedari kecil.

Ni Luh Kartini.
Ketertarikan Kartini mengenai cacing berawal sejak tahun 1970.
Saat itu, pertanian moderen mulai masuk desa.
Petani di sekitar rumahnya tak lagi menggunakan pupuk organik (abu sisa pembakaran kayu) dan benih padi lokal.
Waktu itu, pemerintah memberikan subsidi, pupuk urea, pestisida dan bibit padi ke petani.
“Namun, keadaan pertanian menjadi berubah. Saya heran saat mengembalakan bebek, kok cacing di sawah mati?” tanyanya.
Selain itu, air di sekitar sawah tercemar pestisida menyebabkan sekitar 20 ekor bebeknya mati dan Kartini kecil pingsan.
Kartini tak mengerti dengan kejadian itu, ia bertanya ke orangtua, guru, hingga ke sarjana muda masuk desa, namun tak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.
Alumnus SMA Negeri 1 Singaraja ini akhirnya mendapat saran dari sarjana muda masuk desa.
Ia disarankan kuliah di pertanian guna mencari tahu jawaban akan kegelisahannya itu.
Ia mengikuti saran tersebut hingga benar akhirnya mendapat gelar insinyur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/cacing-tanah_20160521_230914.jpg)