Inspirasi
Awalnya Dibilang Aneh, Ni Luh Kartini Sukses Dirikan Yayasan BOA Karena Cacing
Tahun 1970, Ni Luh Kartini kecil diberikan tugas oleh orangtuanya mengembala bebek ke sawah.
Penulis: Luh De Dwi Jayanthi | Editor: Irma Yudistirani
“Semenjak saat itu saya mengucapkan kaul ke Tuhan, ratu betara bang je tityang gelar insinyur tityang kal ngidupang cacing (ya Tuhan berikan hamba gelar insinyur biar bisa menghidupkan cacing),” ujarnya
Akhirnya Kartini membawa rasa penasarannya ke jenjang kuliah di Fakultas Pertanian Unud.
Ia menghadapi dan melalui kendala demi kendala.
Saat itu banyak dosen yang tidak mengerti akan penelitian tentang cacing yang dilakukan Kartini.
Namun, lulusan magister dan doktor Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran ini tak patah arang.
Keinginan Kartini masih kukuh untuk mengembalikan pertanian modern ke pertanian konvensional (organik).
Caranya dengan membuat pupuk bekas cacing atau dikenal dengan pupuk kascing.
“Saat itu promotor saya tidak setuju dengan penelitian cacing karena ia tak mengerti. Tapi saya yakinkan ke beliau kalau penelitian cacing ini tak mungkin saya tinggalkan karena sudah kaul,” ungkap Kartini ibu tiga anak itu.
Tak sampai di sana, setelah Kartini lulus doktor dan kembali ke Unud menjadi dosen.
Para professor menganggapnya aneh.
“Ngapain lulus doktor kok bawa penelitian aneh tentang cacing?,” ungkap Kartini mengulang pernyataan tersebut.
Dirikan BOA
Jatuh bangun dialami Kartini di tahun 1998.
Saat itu dia mulai mengembangan pertanian organik.
Ia mendapatkan modal dari sebuah perusahaan untuk memasarkan pupuk kascingnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/cacing-tanah_20160521_230914.jpg)