Puisi dan Esai
RUBRIK ESAI - Militan Art, Berkesenian Adalah Roh Kehidupan
Tribun Bali menerima kiriman tulisan berupa esai dan puisi. Panjang maksimal 700 kata. Kirimkan ke email: redaksi.tribunbali@gmail.com
Oleh : Santana Ja Dewa
TRIBUN-BALI.COM - Berkesenian, sebuah keniscayaan bagi perupa sebagai tanggung jawab moral kepada penikmat seni.
Tertantang berekspresi menelurkan sebuah karya, menunjukkan eksistensi seorang perupa.
Militan Art mampu menjawab tantangan tersebut, terbukti kelompok perupa tidak hanya sekadar berwacana dan sekadar muncul.
Kerinduan dan kegelisahan yang awalnya hanya berupa obrolan di sosial media setahun lalu, membentuk kelompok perupa yang diberi nama Militan Art.

Militan sebuah makna yang mendalam, komit, konsisten layaknya sebuah prajurit setia pada negara.
Jiwa militan mengakar dalam jiwa perupa yang tergabung di dalamnya.
Perupa lintas komunitas yakni dari Galang Kangin, Hitam Putih, Sanggar Dewata, dan Ten Art setahun belakangan menggelar pameran di Bentara Budaya bertajuk Ulu Teben.
Konsep tersebut mengadopsi sebuah filosofi kearifan lokal Bali. Ulu direfleksikan sebagai yang luhur atau gunung, serta Teben, sesuatu yang berlawanan atau sebaliknya merajuk pada posisi laut.
Rwa Bhineda mencerminkan sebuah konsep yang bertentangan sekaligus penyatuan atau lebih tepatnya peleburan hubungan semesta dan manusia.
Sebanyak 30 perupa terlibat pameran bersama adalah bukti jalinan kebersamaan dalam artian luas.
Perupa merespon kebersamaan dengan tetap mengedepankan kepribadian masing-masing, sehingga turut mewarnai perkembangan dan pertumbuhan komunitas.
Menembus Waktu dan Ruang
Keberadaan komunitas Militan Art tidak sebatas perspektif seni rupa, melainkan gempuran arus komunikasi era kekinian yang mengalami transformasi, melebur bahkan kemunculannya fenomenal menembus ruang dan waktu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/art_20160626_151816.jpg)