Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Melarat di Pulau Surga

Ketut Darmini Layaknya Tulang Terbalut Kulit, 3 Tahun Dikurung dalam Kamar karena Ini

Tidak ada perkakas apapun di dalamnya selain selembar karpet dan sebuah wadah untuk buang air.

Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Lugas Wicaksono
Ketut Artawan (kiri) merawat kakaknya, Ketut Darmini di dalam kamar rumahnya Dusun Gunung Ina, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng, Kamis (14/7/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Tubuhnya terlihat kurus dan seakan hanya berupa tulang berbalut kulit saja.

Perempuan bernama Ketut Darmini (60) ini terus saja meracau sembari membalikkan badan saat ada orang lain yang menengoknya di rumah Dusun Gunung Ina, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, Kamis (14/7/2016).

Di rumah adiknya, Ketut Artawan (46) itu, Darmini setiap harinya menghabiskan waktunya di dalam sebuah kamar berukuran 3x4 meter.

Kamar yang ditempatinya itu pengap dan gelap.

Tidak ada perkakas apapun di dalamnya selain selembar karpet dan sebuah wadah untuk buang air.

Siang itu, Darmini sedang berjongkok sembari bertelanjang tanpa sehelai pakaian menutupi tubuhnya yang kurus kering itu.

Artawan mengatakan kakak keenam dari tujuh bersaudara itu baru saja makan siang.

Kakaknya itu terpaksa dikurungnya di dalam kamar, tiga tahun terakhir ini karena dianggap mengidap gangguan jiwa yang sudah dialami sejak kecil.

Darmini juga tidak bisa berbicara (tuna wicara).

Pilihan untuk mengurung kakaknya itu menurutnya adalah satu pilihan terbaik.

Sebab sebelumnya Darmini lebih suka berjalan kaki menyusuri desa sembari telanjang.

Ia merasa malu kepada para tetangganya sekaligus cemas akan keselamatan kakaknya itu.

“Menurut ibu saya dari kecil waktu sudah bisa merangkak sakit step, sering jatuh kemudian seperti ini. Dulu waktu dia jalan-jalan saya malu sama orang karena telanjang dan ganggu orang. Apalagi jalannya suka jauh takut gak bisa balik atau terserempet kendaraan waktu di jalan,” ujarnya.

Sehari-hari di rumahnya, Artawan merawat Darmini bersama istrinya, Ketut Ariani (45) dan keempat anaknya.

Dalam sehari, perempuan ini makan dua kali sendiri.

Artawan yang bekerja sebagai kuli bangunan merasa masih mampu untuk memberikan makanan kepada kakaknya itu.

“Saya nggak susah kalau secara ekonomi karena cuma kasih makan saja, makannya ya sesuai dengan apa yang kita makan, kalau kita makan telur ya kita kasih telur juga,” katanya.

Meski kondisinya terkesan kurang terawat, tetapi selama ini Darmini tidak pernah mengeluh sakit.

“Itu yang membuat saya bersyukur, cuma kondisinya memang seperti ini,” ucapnya.

Artawan merasa masih ingin merawat Darmini di rumahnya saja daripada harus membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli atau ke lembaga sosial lainnya.

Sebab dengan demikian ia lebih mengetahui kondisi kakaknya itu tanpa merasa cemas.

“Kalau diajak ke Bangli gak mungkinlah kita, kasihan juga, saya mengharapkan biar lama saja sama saya. Nanti kalau ada apa-apa tanpa sepengetahuan saya kan kasihan juga,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved