Belajar Ngereh di Pasraman Cakra Ca Buana, Berawal dari Dihaturkannya Tapakan Barong dan Rangda
Namun dalam prosesnya sekitar lima tahun yang lalu, sejumlah sisya malah menghaturkan tapakan berupa barong.
Penulis: I Made Argawa | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Pasraman Cakra Ca Buana yang berada di Banjar Temuku Aya, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Bali tak hanya dijadikan sebagai tempat menekuni spiritual.
Namun pasraman yang didirikan sejak tahun 2003 ini juga dijadikan tempat belajar ngereh.
Guru Pasraman Cakra Ca Buana, Dewa Putu Budi Adnya (44) menceritakan, awalnya pasraman yang sekarang memiliki sekitar 203 sisya (murid, Red) ditujukan lebih spesifik untuk belajar pengobatan tradisional Bali.
Namun dalam prosesnya sekitar lima tahun yang lalu, sejumlah sisya malah menghaturkan tapakan berupa barong.
Dua tahun kemudian disusul ada yang menghaturkan tapakan rangda.
"Saya terkejut ada sisya yang menghaturkan tapakan. Pertama barong kemudian disusul rangda," katanya kepada Tribun Bali, Rabu (10/8/2016).
Setelah memiliki tapakan tersebut, para sisya justru memiliki keinginan belajar ngereh.
Para siswa tersebut menunjuk Dewa Adnya sebagai guru.
"Saat ini ada lima remaja yang sudah siap untuk pentas dan ngereh dari pasraman," jelasnya.
Untuk belajar ilmu spiritual khususnya ngereh, menurutnya tidak hanya dibutuhkan kemauan, tapi juga ketaatan.
Ini akan berpengaruh terhadap taksu seseorang.
"Ada beberapa faktor yang berpengaruh, selain itu kesabaran sangat dibutuhkan," terangnya.
Untuk belajar hingga tahap ngereh di Pasraman Cakra Ca Buana, dimulai dari tingkatan dasar.
Selanjutnya ada beberapa tingkatan yang harus dilalui hingga mencapai tingkat tingkat akhir atau biasa disebut kawisesan.
"Jika telah mencapai tingkat akhir sisya bisa ngereh juga menguasai ilmu usadha (pengobatan, Red)," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasraman-cakra-ca-buana_20160811_135957.jpg)