PARADE FOTO: Maestro Tari Legong Ubud Diarak dengan Bade Tumpang Sia

Gemuruh suara baleganjur menggema di peliatan Ubud, Gianyar, Bali.

Penulis: I Nyoman Mahayasa | Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa
Lembu Selem dari Puri Agung Peliatan, Desa Peliatan, Ubud, dibakar di Setra Dalem Puri Ubud, Gianyar, Bali, Sabtu (20/8/2016). Upacara itu sebagai persembahan terakhir kepada almarhum Anak Agung Istri Sitiari, ibu kandung Pangelingsir Puri Agung Peliatan, Tjokorda Gde Putra Nindia. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Gemuruh suara baleganjur menggema di peliatan Ubud, Gianyar, Bali.

Ribuan warga dan ratusan wisatawan mancanegara pun berbaur dalam upacara Karya Palebon Agung terhadap almarhum Anak Agung Istri Sitiari.

Ribuan warga pengayah mengenakan seragam ungu dengan semangat mengusung Lembu Selem dan Bade Tumpang Sia (bertingkat sembilan) di Puri Agung Peliatan, Desa Peliatan, Ubud, menuju Setra Dalem Puri Ubud pada Saniscara Pahing Warigadean, Sabtu (20/8/2016).

aben_20160821_141210.jpg
Lembu Selem dari Puri Agung Peliatan, Desa Peliatan, Ubud, dibakar di Setra Dalem Puri Ubud, Gianyar, Bali, Sabtu (20/8/2016). Upacara itu sebagai persembahan terakhir kepada almarhum Anak Agung Istri Sitiari, ibu kandung Pangelingsir Puri Agung Peliatan, Tjokorda Gde Putra Nindia. (Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa)

Upacara itu sebagai persembahan terakhir kepada almarhum Anak Agung Istri Sitiari, ibu kandung Pangelingsir Puri Agung Peliatan, Tjokorda Gde Putra Nindia.

Saat itu dilakukan prosesi Lembu Selem dan Bade Tumpang Sia setinggi 17 meter ini diusung menuju Setra Dalem Puri di Banjar Tebasaya, Desa Peliatan, Ubud.

Prosesi pelebon ini melibatkan pengarak bade dan lembu dari sejumlah banjar, seperti Banjar Tengah Kangin, Tengah Kauh, dan Pande di Desa Peliatan.

Selain itu, Banjar Petulu, Desa Petulu, Ubud, dan Banjar Kutuh Kaja, Kutuh Kelod, dan Taman Kelod, Ubud.

Sedangkan pengayah pemucuk atau utama dari Banjar Teruna, Desa Peliatan.

Pangelingsir Puri Agung Peliatan Tjokorda Gde Putra Nindia mengapresiasi semangat para pengayah mewujudkan lembu selem, bade tumpang sia dan sejumlah sarana lainnya ini.

Dikatakannya, ini semua sebagai persembahan terakhir kepada almarhum Anak Agung Istri Setiari yang juga maestro Tari Legong Peliatan.

aben_20160821_141227.jpg
Maestro Tari Legong Peliatan ini mengembuskan napas terakhir pada 26 Juli 2016, karena digerogoti penyakit menua dan stroke sejak tiga tahun lalu. (Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa)

Almarhum AA Anom Sitiari yang juga istri Tjokorda Gede Agung, meninggalkan empat anak dan belasan cucu.

Keempat anak almarhum masing-masing Tjokorda Agung Murniati (58), Tjokorda Gde Putra Nindia (55), Tjokorda Ratih Iriani (53), dan Tjokorda Dalem Astiti (51).

Pria yang akrab disapa Cok Nindia ini menuturkan bahwa ibundanya ini merupakan salah satu dari tiga maestro Tari Legong Peliatan, yang namanya sudah tersohor hingga ke mancanegara.

cok-nindia_20160821_141344.jpg
Pangelingsir Puri Agung Peliatan, Tjokorda Gde Putra Nindia. Ia mengapresiasi semangat para pengayah mewujudkan Lembu Selem, Bade tumpang sia dan sejumlah sarana lainnya. (Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa)

Disebutkannya, almarhum sudah belajar menari Bali sejak usia tujuh tahun.

“Alamarhum memang punya minat dan bakat menari Bali yang tinggi. Ini juga ditunjang dengan tradisi keluarga yang sangat taat berkesenian,“ katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved