Music Zone
4 Pemuda Bali Luncurkan Mini Album Tentang G30S
Band rock ugal-ugalan yang terdiri dari 4 pemuda Bali luncurkan album mini tentang peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah kelam bangsa...
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gestok (Gerakan Satu Oktober) yang akrab juga disebut G 30 S atau Gestapu bukan lagi sesuatu yang ditabukan di masa kini.
Meskipun kerap dihantui pencekalan dan larangan dari aparat, namun berbagai pembahasan baik dalam lingkup diskusi hingga karya seni, yang menggambarkan peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia ini terus bermunculan.
Sebutlah beberapa film yang cukup kontroversial karya sutradara asal Amerika, Joshua Oppenheimer, yakni Jagal (2012) dan Senyap (2014).
Kisah yang menapak tilas kembali kekejaman yang terjadi di masa tersebut dituangkan dalam film itu.

Personel Jangar: Gusten Keniten (vokal), Adi Sanjaya (gitar), Rai Biomantara (bass) dan Pasek Darmawaysya (drum).
Atau Hermawan Sulistyo, dalam bukunya Palu Arit di Ladang Tebu.
Tak hanya Joshua dan Hermawan Sulistyo, begitu pula dengan Jangar.
Band rock ugal-ugalan yang terdiri dari 4 pemuda Bali, Gusten Keniten (vokal), Adi Sanjaya (gitar), Rai Biomantara (bass) dan Pasek Darmawaysya (drum), menerjemahkan pandangan mereka tentang peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah kelam bangsa ini dalam sebuah lagu bertajuk senada, Gestok.
Berbeda dari apa yang selama ini diceritakan secara umum, dari buku-buku pelajaran, dan kemasan pemberitaan sejak pemerintahan Soeharto.
Jangar mengemas kisah 1965 tersebut dari sisi berbeda untuk memberikan sudut pandang yang baru bagi para pendengarnya.
"Kita dikasih perspektif seperti ini selama pelajaran di sekolah dulu tentang Gestok. Namun setelah melihat lebih lebar, ternyata ada perspektif lain yang juga mesti kita tangkap," ujar Pasek.
Gestok hanya satu di antara total 6 lagu yang telah ditelurkan Jangar dalam sebuah Extended Play (EP) bertajuk Self Titled, yang mereka rilis dalam bentuk digital serta fisik berupa kaset. Meski menyebut diri mereka ugal-ugalan, namun bukan dalam perspektif negatif.
Seperti pada lagu Gestok, justru band yang terbentuk sejak tahun 2015 ini cukup peka dengan isu-isu sosial.
Dengan melihat dari sudut pandang yang lebih luas, lalu mengemasnya dalam bentuk lagu.
Melihat dengan perspektif yang lebih lebar, tidak hanya mengerucut pada satu pemikiran saja, begitu Jangar menegaskan konsep lagu mereka.
Terutama pada hal-hal yang mereka anggap menarik yang kemudian mereka gali lagi.
"Kalau dari lirik, kami membuat yang kami tahu, kami senang, yang menarik dan kami gali lagi. Tapi ya tadi dengan pespektif lebih lebar, tidak mengerucut," tambahnya.
Selain Gestok, 5 lagu lainnya di mini album yang ditelurkan dalam fisik kaset ini, antara lain, Ruptural, Robokop, 男儿当自强, Titan, dan H.S.S (bonus track).
Lewat mini album terebut, Jangar juga ingin memperkenalkan diri mereka sebagai band baru di Pulau Dewata.
“Mini album self titled ini sebagai perkenalan. Bahwa ada lho band namanya Jangar,” ujar Pasek.
Selain disibukkan dengan kegiatan masing-masing personel, Jangar kini menggarap materi-materi baru.
Rencananya akan ada 8-10 lagu baru yang mereka buat untuk album baru mereka.
Gus Rai menyampaikan, hingga saat ini, mereka tengah menggarap komposisi untuk konsep full album-nya tersebut.
“Sekarang masih buat komposisinya dulu. Dan latihan di studio, tapi untuk recording masih belum. Targetnya untuk tahun depan,” ujar Gus Rai. (*)