Siswa di Denpasar Keberatan Larangan Bawa Ponsel ke Sekolah
PPPA saat ini tengah mengkaji peraturan pemerintah (PP) yang melarang anak membawa ponsel ke sekolah.
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) saat ini tengah mengkaji peraturan pemerintah (PP) yang melarang anak membawa ponsel ke sekolah.
Peraturan tersebut termasuk dalam rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang perlindungan khusus kepada anak.
Sejumlah siswa di Denpasar mengaku sudah mendengar wacana yang dikeluarkan oleh Menteri PPPA Yohana Yembise, terkait larangan membawa handphone (HP) oleh peserta didik di seluruh sekolah di Indonesia.
Alasan pelarangan tersebut karena saat ini siswa bisa mengakses berbagai konten di dunia maya, termasuk konten berbau pornografi.
Namun para siswa keberatan dengan rencana peraturan pemerintah tersebut.
Alasannya, ponsel sangat dibutuhkan oleh siswa.
Bukan hanya untuk berkomunikasi dengan orangtua, tapi juga untuk kebutuhan belajar yang berbasis IT (informasi teknologi) di sekolah.
"Di sekolah kami, siswa diperkenankan mencari di internet materi yang tidak ada di dalam buku. Karenanya pemanfaatan smartphone sangat berguna bagi siswa," ujar Simplisius Leandro Okhotan, siswa SMA K Harapan Denpasar kepada Tribun Bali, Jumat (23/9/2016).
Menurutnya, penggunaan ponsel oleh siswa di sekolah juga tidak maksimal karena keterbatasan waktu istirahat.
Pun jarang siswa yang mengakses situs-situs pornografi.
"Berdasarkan pengalaman, teman-teman saya tidak pernah mengakses pornografi di sekolah tetapi di rumah. Jadi ini tidak masuk akal," tambah Leandro.
Hal senada diungkapkan Ananda Swari, siswi kelas 9 SMPN 1 Denpasar.
Gadis ini lebih menitikberatkan komunikasi dengan orangtua karena masih diantar-jemput pergi dan pulang sekolah.
"Saya kurang setuju. Soalnya kalau ada keperluan apa-apa dengan orangtua, kita sulit komunikasi. Bisa sebenarnya dengan telepon sekolah, tapi kan siswa juga banyak. Kalau perlunya mendadak dan urgent susah," katanya.
Saat ditemui di sekolahnya, Ananda tampak sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.
Sejak bel tanda berakhirnya proses belajar di sekolahnya berbunyi, gadis ini tak melepaskan ponsel dari genggamannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/un-smp_20160510_220937.jpg)