Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Melarat di Pulau Surga

Memilukan, Karma dan Keluarganya di Gianyar Hidup dari Bantuan Tetangga

Insiden dua tahun silam itu terjadi saat ia menebang pohon di ketinggian 15 meter.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Made Karma berbaring di tempat tidurnya didampingi istri dan putra semata wayangnya, Made Sandiawan, Senin (3/10/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Made Karma (46) hanya bisa terbaring di tempat tidur di sebuah rumah kecil dengan genting yang berlubang.  

Kedua kakinya lumpuh saat terjatuh menebang pohon beberapa tahun lalu.

Lantaran tidak bisa bekerja, kini Made Karma, istri dan anaknya yang berumur empat tahun hanya bisa makan dari bantuan pangan yang diberikan oleh para tetangga.

Semantara pemerintah hingga kini belum pernah memberikan santunan kepada warga miskin ini.

Dengan kondisi yang serba kekurangan, Made Karma menceritakan kelumpuhan yang ia alami akibat kecelakaan saat bekerja, pada akhir 2014 lalu.

Insiden dua tahun silam itu terjadi saat ia menebang pohon di ketinggian 15 meter.

Sempat tidak sadarkan diri hingga dilarikan ke RSUD Sanjiwani Gianyar.

“Ketika sadar di Rumah Sakit Sanjiwani, saya baru merasa seluruh tubuh tidak bisa digerakkan, kata dokter ada kerusakan di tulang pinggang saya, “ tuturnya.

Berbagai upaya dilakukan oleh keluarganya untuk kesembuhan Made Karma.

Namun sayangnya, hingga semua harta bendanya dijual untuk biaya berobat, Made Karma tidak memperoleh  kesembuhan.

Dia dinyatakan lumpuh. Karena tidak memiliki biaya berobat, kini Karma dan keluarga hanya menanti mukjizat dari Ida Sang Hyang Widhi.

“Kaki saya masih bisa sedikit digerakkan tetapi lemah sekali sehingga tidak bisa beranjak dari tempat tidur, “ ucap Karma sembari menggerakkan kakinya dengan susah payah.

Istrinya, Nyoman Bukti, tidak henti-hentinya meneteskan air mata.

Sebab ia tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak memiliki keahlian dan ijazah.

Selain itu, dia juga tidak leluasa meninggalkan rumah lantaran harus merawat suaminya dan buah hatinya.

Sementara, seekor sapi yang sempat dipelihara pun sudah terjual untuk biaya hidup dan berobat suaminya.

“Kami hanya bisa hidup dari bantuan para tetangga. Biasanya setiap hari ada tetangga yang memberikan kami nasi untuk dimakan. Sebenarnya malu, tapi mau bagaimana lagi,” keluhnya.

Terkait bantuan pemerintah, Bukti mengaku selama ini hanya mendapatkan bantuan berupa raskin.

Bantuan ini pun terkadang memberatkannya lantaran tidak punya biaya tebusan raskin.

Dan, beberapa bulan lalu, bantuan raskin tersebut sempat terhenti.

Karena itu, keluarga ini pun harus kembali minta-minta pada tetangga.

Paling disayangkan lagi, pihaknya sudah mengadukan kondisi keluarganya tersebut pada pihak banjar.

Namun hingga kini belum ada hasilnya.

“Saya sudah pernah mengadukan kondisi kami kepada kelian agar dapat bantuan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, katanya masih dalam proses,“ ucapnya.

Kepala Dinas Sosial Gianyar, Made Watha, saat dikonfirmasi, Senin (3/10/2016), mengaku terkejut mendengar kisah hidup keluarga Made Karma.

Sebab, hingga saat ini pihaknya belum pernah mendapatkan laporan tentang keluarga ini.

“Saya rutin ke Desa Taro, sama sekali tidak ada laporan kondisi ini dari perbekel atau kelihan dinasnya, “ ucapnya.

Pihaknya pun langsung menurunkan petugas untuk melakukan pengecekan.

Selain itu, pihaknya akan mengkoordinasikan pada Dinas Pendidikan agar anak Made Karma, Made Sandiawan  mendapatkan beasiswa.

“Saya meyayangkan hal seperti ini tidak dilaporkan ke pemerintah. Hal ini menyebabkan kami seolah-olah tak peduli pada nasib masyarakat miskin,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved