Jembatan Cinta Nusa Lembongan Putus
Tenget, Nyepi Segara di Nusa Penida, 24 Jam Tidak Boleh Menyeberang
Tidak ada aktivitas penyeberangan barang dan penumpang dari dan menuju Nusa Penida. Pengusaha boat dan kapal barang hanya memarkir armadanya di laut
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Sejumlah pelabuhan tradisional di pesisir Klungkung seperti Pelabuhan Tribhuana dan Banjar Bias di Desa Kusamba, serta Pelabuhan Pesinggahan tampak lengang, Minggu (16/10/2016).
Tidak seperti hari biasa yang padat, kemarin pelabuhan tersebut tampak lumpuh total.
Tidak ada aktivitas penyeberangan barang dan penumpang dari dan menuju Nusa Penida.
Pengusaha boat dan kapal barang hanya memarkir armadanya di laut dan tidak beraktivitas untuk sementara waktu.
“Hari ini Nusa Penida menggelar ritual Nyepi Segara, jadi sementara semua aktivitas penyeberangan di sini ditutup,” kata Komang Wirta, seorang pekerja di Pelabuhan Banjar Bias, Desa Kusamba, Klungkung, Bali kemarin.
Sejak pukul 06.00 Wita kemarin, warga di Nusa Penida menggelar tradisi Nyepi Segara.
Tidak seperti Nyepi pada umumnya yang dilaksanakan di Klungkung daratan, Nyepi Segara di Nusa Penida dilaksanakan di laut.
Selama 24 jam penuh, warga tidak boleh melakukan aktivitas di laut.
Seperti menangkap ikan, memanen rumput laut, maupun aktivitas penyeberangan penumpang maupun barang menuju dan dari Nusa Penida.
“Sesuai dengan Surat Edaran dari pihak panitia rangkaian upacara ngusaba dan Nyepi Segara. Aktivitas penyeberangan kita tutup selama sehari penuh, dan kembali normal Senin (17/10),” kata Unit Pelayanan Teknis Penyeberangan Nusa Penida, I Dewa Gede Agus Swarmahendra.
“Hal ini sudah kami informasikan kepada setiap pemilik armada angkutan laut, untuk menghentikan aktivitas armadanya sementara waktu,” jelasnya.
Tradisi Nyepi Segara di Nusa Penida dilaksanakan setiap tahun, serangkaian upacara ngusaba di Pura Penataran Ped, di Desa Ped dan Pura Batumedawu, di Dusun Semaya, Desa Suana, Nusa Penida.
Biasanya Nyepi Segara dilaksanakan setelah puncak Ngusaba yang jatuh pada rahina Buda Paang, Rabu (12/10/2016).
Setelah empat hari dari puncak karya, dilaksanakan Nyepi Segara yang merupakan rangkaian upacara pembersihan Buana Alit dan Buana Agung di segara.
“Nyepi Segara ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap alam. Selama ini laut adalah sumber kehidupan masyarakat di sini, yang memberikan kelimpahan rezeki bagi masyarakat kami. Sehingga sebagai umat manusia yang sangat tergantung dengan laut, kami laksanakan Nyepi Segara, yang tidak lain untuk menghaturkan puji syukur sebagai atas karuniaNya. Dengan cara membebaskan laut dari berbagai aktivitas manusia selama sehari penuh,” kata Mangku Nyoman Dunia, panitia upacara Ngusaba di Pura Batumedawu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/nyepi-segara_20161016_183206.jpg)